Jumat, 25 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 25 Mei 2012 | 12:14 WIB
Sulit Yakinkan Petani Jual Kotoran Sapi
Lukas Adi Prasetya | Kamis, 3 September 2009 | 20:35 WIB
|
Share:

BANTUL, KOMPAS.com - Kotoran dari 50.000 sapi di Bantul yang totalnya mencapai 500 ton per hari, cukup untuk bahan baku pupuk organik yang produksinya di pabrik akan dimulai Oktober mendatang. Yang menjadi masalah adalah cara meyakinkan petani-peternak agar mau menjual kotoran sapinya, serta cara membawa kotoran segar itu pabrik.

Pabrik pupuk organik yang berlokasi di Dusun Karanganyar, Gadingharjo, Sanden, akan menjadi satu-satunya dan pabrik pertama pupuk organik di Provinsi DIY. Pemkab Bantul bekerja sama dengan PT Petrokimia menjalankan pabrik tersebut. Kapasitas produksinya mencapai 10 ton pupuk organik per hari.

Untuk menghasilkan 10 ton pupuk organik yang berbentuk butiran tersebut, diperlukan sekitar 10,5 ton bahan baku (kotoran) kering. Berat kering tersebut adalah 40 persen dari berat basah kotoran ternak. Dengan kata lain, diperlukan 26,25 ton kotoran basah untuk menghasilkan 10 ton pupuk organik ini.

"Ada sekitar 50.000 sapi di Bantul dengan produksi kotoran 500 ton per hari, saat ini. Dari sisi jumlah, memang tak ada masalah untuk mencukupi bahan baku segar," ujar Edy Suharyanta, Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Bantul, Kamis (3/9).

Namun masalahnya, lanjut Edy, banyak kotoran sapi dari Bantul yang dibawa dan dijual ke luar wilayah Bantul. Atas dasar itu, Pemkab Bantul mesti melakukan langkah strategis untuk mencegat petani-peternak agar mau menjual kotoran sapi ke pabrik. "Kami sudah menjalin mitra dengan empat kelompok tani. Mereka yang bertugas mengumpulkan bahan baku segar dari para petani-peternak di Bantul. Kotoran segar itu, lantas mereka keringkan. Setelah kering, barulah kotoran dikirim ke pabrik," katanya.

Uji coba pembuatan pupuk butir-seperti urea- tersebut, sudah dilakukan pekan lalu. Harga jual pupuk yang dilabeli nama Petroganik tersebut, dari pabrik Rp 500 per kg. Harga semestinya Rp 1.500, namun karena PT Petrokimia mendapat subsidi dari pemerintah Rp 1.000 per kg, maka pupuk bisa dijual Rp 500 per kg.

"Hasil uji coba produksi pupuk, sudah kami kirim ke Petrokimia untuk dianalisis kandungan unsur haranya. Ada cairan yang menurut Petrokimia harus ditambahkan ke pupuk agar komposisinya ideal. Petrokimia merahasiakan zat apa yang ditambahkan itu, tapi mengirim mixtro, cairan penambah unsur hara pada pupuk," tutur Indarko, Kepala Bidang Sarana Prasarana dan Agrobisnis Dinas Pertanian Bantul yang juga pengurus Unit Pelaksana Teknis Pengolah Pupuk pabrik tersebut.