Jumat, 25 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 25 Mei 2012 | 12:32 WIB
Petani Minta Kotoran Sapi Dibeli Mahal
Lukas Adi Prasetya | Minggu, 6 September 2009 | 20:39 WIB
|
Share:

BANTUL, KOMPAS.com - Petani menyambut gembira rencana Pemerintah Kabupaten Bantul yang hendak membeli kotoran sapi segar sebagai bahan baku pupuk organik. Namun Pemkab mesti membeli kotoran sapi dengan harga cukup tinggi, dan memberi kemudahan lain agar petani bersemangat menambah jumlah sapinya.

"Selain itu, harga beli kotoran sapi juga mesti cukup menguntungkan petani sehingga petani mau menjualnya ke pemkab. Sebab, selama ini, banyak kotoran sapi dan pupuk kandang yang dijual ke luar Bantul karena dihargai lebih tinggi," ujar Sarjono, Ketua Kelompok Tani Sabdodadi, di Tamantirto, Kasihan, Bantul, Minggu (6/9).

Dibangunnya pabrik pupuk organik di Gadingharjo, Sanden, menurut dia, merupakan langkah yang tepat. "Jika pemkab menginginkan pertanian organik diterapkan, ya dukung, dong. Pupuk organik nanti yang dijual, mesti murah, mudah didapat dan ketersediaannya terjamin. Pemkab juga mesti berani membeli kotoran sapi atau pupuk kandangnya dengan harga tinggi," katanya.

Kepala Dinas Pertanian Bantul Edy Suharyanta mengatakan, kotoran sapi dan pupuk kandang dari Bantul yang dibawa dan dijual ke luar wilayah Bantul, adalah masalah yang mesti dicari jawabannya. Pemkab mesti melakukan langkah yang menguntungkan bagi petani.

"Pemkab sudah menjalin mitra dengan empat kelompok tani. Mereka yang bertugas mengumpulkan bahan baku segar dari para petani-peternak di Bantul. Kotoran segar itu, lantas mereka keringkan. Setelah kering, barulah kotoran dikirim ke pabrik," kata Edy.

Kotoran dari 50.000 sapi di Bantul yang totalnya 500 ton per hari, cukup untuk bahan baku pupuk organik yang produksinya di pabrik dimulai Oktober mendatang. Pemkab Bantul bekerja sama dengan PT Petrokimia dalam menjalankan pabrik tersebut.

Kapasitas produksi pabrik 10 ton pupuk organik per hari. Untuk menghasilkan 10 ton pupuk organik yang berbentuk butiran tersebut, diperlukan sekitar 10,5 ton bahan baku (kotoran) kering. Berat kering tersebut adalah 40 persen dari berat basah kotoran ternak. Dengan kata lain, diperlukan 26,25 ton kotoran basah untuk menghasilkan 10 ton pupuk organik ini.

Harga jual pupuk organik yang dilabeli nama Petroganik tersebut, dari pabrik Rp 500 per kg. Harga semestinya Rp 1.500, namun karena PT Petrokimia mendapat subsidi dari pemerintah Rp 1.000 per kg, maka pupuk bisa dijual Rp 500 per kg.

"Saya sudah bertahun-tahun membuat pupuk organik (pupuk kandang) sendiri dari kotoran sapi. Saya punya 7 sapi. Pupuk tak saya jual karena dipakai sendiri. Tapi kalau saya hitung, jika pupuk kandang buatan saya itu dijual, harganya minimal Rp 750 per kg. Dengan kata lain, jika pemkab serius, ya jika petani-peternak mau repot beternak sapi, ya beli dong kotoran sapi segar atau yang sudah dikeringkan, dengan harga tinggi," ujarnya.