TASIKMALAYA, KOMPAS.com — Direktur Utama Bank Tabungan Negara Iqbal Latanro mengatakan, BTN sedang mendata berapa debitor yang terkena dampak gempa Tasikmalaya. BTN akan menyiapkan beberapa skenario perlakuan khusus bagi debitor yang menjadi korban gempa tersebut.
Hal itu disampaikan Iqbal di hadapan Asisten Daerah I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya Djedje Suhendi, jajaran pegawai BTN Cabang Tasikmalaya, dan tokoh masyarakat di Tasikmalaya, Kamis (10/9).
Iqbal hadir di Tasikmalaya untuk memberikan sumbangan bagi para korban gempa senilai Rp 200 juta. Dari jumlah itu, sebanyak Rp 100 juta di antaranya disalurkan melalui posko bencana Kabupaten Tasikmalaya dan sisanya diberikan kepada sekolah, pondok pesantren, dan tiga masjid masing-masing Rp 20 juta di Kota dan Kabupaten Tasikmalaya.
Iqbal mengatakan, BTN sedang mendata berapa jumlah debitor yang terkena gempa dan dampaknya. Ada dua kategori debitor didata, yakni mereka yang terkena bencana gempa dan mereka yang kehilangan penghasilan akibat gempa.
Menurut Iqbal, ada dua kebijakan yang mungkin diambil BTN. Pertama, mengadakan moratorium dengan pemerintah yang isinya pemerintah ikut membayar bunga selama tiga tahun. "Hal ini sudah pernah dilakukan ketika gempa Yogyakarta tahun 2006 terhadap ribuan debitor yang rumahnya hancur. Atau kebijakan kedua adalah penjadwalan ulang kredit. Adanya dua langkah itu bukan berarti kreditnya lunas lho," ujar Iqbal.
Hal serupa juga sudah dilakukan terhadap warga Sidoarjo yang terkena semburan lumpur. Diberlakukan tunda bayar bagi debitor BTN di Sidoarjo atas izin Bank Indonesia. Namun, di Sidoarjo pemerintah tidak berperan dalam kebijakan BTN.
Asisten Daerah I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Tasikmalaya Djedje Suhendi melaporkan, data kerusakan akibat gempa sampai Kamis pukul 06.00, di antaranya, 11.467 rumah rusak berat, 30.594 rumah rusak ringan, 197 sekolah rusak berat, dan 378 sekolah rusak ringan. Nilai kerugian diperkirakan lebih dari Rp 336 miliar.
Djedje berharap, donatur yang berniat memberikan bantuan kepada korban gempa agar menyalurkannya kepada posko bencana pemerintah daerah. Hal ini bertujuan agar bantuan bisa dibagikan secara merata kepada korban gempa di seluruh kecamatan.
Menurut Djedje, korban gempa ada di setiap kecamatan. Akan tetapi, lokasinya tersebar di pelosok. Kondisi geografis Tasikmalaya yang berbukit-bukit menyulitkan aparat pemerintah menjangkaunya dalam waktu cepat.
"Kami, di antaranya, masih membutuhkan obat-obatan, makanan untuk anak-anak, serta tenda darurat untuk siswa sekolah belajar," kata Djedje.
Iqbal menambahkan, bantuan BTN diambil dari dana Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL). Selain di Tasikmalaya, BTN juga sedang menjajaki kemungkinan pemberian bantuan serupa di daerah lain yang juga terkena gempa, seperti Kabupaten Garut, Cianjur, dan Ciamis.
