Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla mengaku malu hati ketika ia harus meresmikan beroperasinya Menara Bosowa yang dimiliki adik iparnya, Aksa Mahmud, yang juga dikenal sebagai Wakil Ketua MPR, Rabu (9/9) di lobi Gedung Menara Bosowa, di depan Lapangan Karebosi, Makassar, Sulawesi Selatan.
Apalagi, sebelumnya, ia juga baru meresmikan wahana rekreasi kelas dunia yang diberi nama Trans Studio Theme Park di kawasan Tanjung Bunga, dekat Pantai Losari, Makassar.
Maklumlah, tempat rekreasi yang terinspirasi dari Disneyland di Amerika Serikat itu merupakan hasil kerja sama bisnis perusahaan keluarganya, Kalla Group, dengan Para Group, yaitu perusahaan yang dikendalikan oleh pengusaha Chairul Tandjung, pemilik stasiun televisi Trans TV dan Trans-7. Kongsi kedua perusahaan itu kini dikenal dengan nama Trans Kalla.
”Terus terang, saya malu hati karena ini seperti acara keluarga saja. Tadi, saat meresmikan Trans Studio, juga ada perusahaan Kalla. Akan tetapi, saya mau berbicara dan melihat hal ini secara profesional,” kata Kalla. Hadirin undangan senyum-senyum saja.
Acara itu dihadiri, antara lain, oleh istri dan adik-adiknya; pendiri Bosowa, Aksa Mahmud; Presiden Direktur Bosowa Group Erwin Aksa, putra sulung Aksa Mahmud; sejumlah putra-putri Wapres; serta beberapa pimpinan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan karyawan Bosowa Group.
Bukan Kalla, memang, kalau tak bicara terus terang dan terbuka. Ia pun melanjutkan lagi pidatonya, bahwa ia merasa tidak enak lagi karena ia juga akan meresmikan kantor barunya yang akan digunakan di kampung halamannya setelah ”pensiun”, sebulan lagi.
Gedung itu akan diberi nama Kalla Tower, yang berlokasi di Jalan Dr Sam Ratulangi, Makassar. Kalla Tower merupakan gedung berlantai 15, termasuk koridornya di atap hotel.
Sebagai pengusaha sejak puluhan tahun lalu, dana untuk mengembangkan bisnis keluarganya, termasuk membangun kantor baru, tentu diperoleh dari hasil keuntungan sejumlah perusahaannya.
Misalnya, ia mengaku bahwa di daerah-daerah angka penjualan mobil berbagai merek turun, tetapi di Makassar tidak.
”Hanya di Makassar yang naik angka penjualannya,” papar Kalla. Dia telah menyerahkan usahanya kepada anak dan keluarganya sejak 10 tahun lalu. Perusahaan Kalla dikenal juga sebagai pemasok mobil di kawasan Indonesia bagian timur.
Namun, tentu Wapres Kalla perlu menjelaskan kepada publik lewat pers. Saat wawancara dengan pers di rumah pribadinya di Jalan Haji Bau, Makassar, Selasa (8/9) malam, Wapres menegaskan, meskipun keluarganya ikut berbisnis, mereka tidak melibatkan pemerintah dan menggunakan uang negara.
”Proyek Trans Studio itu tidak ada hubungannya dengan pemerintah. Jadi, jangan sampai dikatakan Wapres mengambil uang pemerintah untuk membangunnya. Ini proyek swasta 100 persen,” tandasnya.
Wapres mengatakan, lahan proyek ini berasal tanah miliknya. ”Saya kasih tanah yang sejak lama saya miliki. Jadi, ini bisnis keluarga,” lanjutnya lagi.
Wapres kemudian menegaskan, bisnis keluarganya 95 persen adalah bisnis masyarakat dengan masyarakat. ”Tidak ada hubungannya dengan pemerintah. Bahwa ada gubernur dan wali kota kasih izin, ya itu wajar-wajar. Tidak ada minta-minta uang pemerintah,” katanya.
