JAKARTA, KOMPAS.com - Total utang Garuda Indonesia kepada PT Bank Mandiri Tbk yang jatuh tempo tahun 2006 mencapai Rp 3,36 triliun. Pinjaman itu sebagian ditanggung oleh Garuda Indonesia dan sebagian lagi oleh pemerintah. "Jumlah tersebut berdasar perhitungan hingga Juni 2010. Rencananya di Juni itu mereka akan IPO (initial public offering)," kata Abdul Rachman, Direktur Manajemen Aset Bank Mandiri di Jakarta, Kamis (16/9).
Menurut Abdul, total utang tersebut berasal dari perhitungan di dalam MCB yang diatur pemerintah melalui KKSK. Rinciannya berupa utang pokok sebesar Rp 1,4 triliun dan tingkat keuntungan bunga (internal rate return/IRR) sebesar 18 persen per tahun sejak 2001.
Mengingat besarnya utang maskapai penerbangan berplat merah itu, pihak Bank Mandiri menyadari keterbatasan itu. Karena menurut Agus Martowardojo Direktur Utama Bank Mandiri, bisa saja Garuda melunasi semua utangnya saat ini. Namun perusahaan penerbangan itu tidak akan mempunyai cukup dana untuk ekspansi tahun depan. "Kalau Rp 3,36 triliun itu diminta semua oleh Bank Mandiri, kemungkinan Garuda tidak cukup uangnya untuk ekspansi. Jadi kita berharap agar sebagian ditanggung Garuda, sebagian pemerintah," ungkap Agus.
Lebih lanjut, Abdul menuturkan mekanisme pembayaran utangnya didasarkan atas Keputusan KKSK no 3/ Tahun 2001, RUPS Luar Biasa Garuda pada tahun 2000 dan keputusan Meneg BUMN. Namun perhitungan porsi pembayaran Garuda dan pemerintah masih belum diputuskan. Perhitungan pembagian akan disesuaikan dengan perolehan dana hasil IPO mendatang.
Lebih lanjut, Abdul menjelaskan, jika dikonversi sebagai saham sesuai perjanjian, maka porsi saham Bank Mandiri bisa mencapai 28,84 persen dalam perseroan penerbangan tersebut, dengan asumsi modal disetor Garuda Rp 8,16 triliun.
Angka tersebut berdasar perhitungan dimana sesudah dikurangi 5 persen dari pokok sebesar Rp 50,94 miliar maka utang yang tersisa masih berjumlah Rp 3,31 triliun."Kan sama seperti deposito, kalau bunganya di-roll over maka akan bunga berbunga. Jadi kalau telat IPO maka besaran utang semakin besar," ujarnya.
