MEDAN, KOMPAS.com — Hingga sepekan ke depan, Sumatera Utara mengalami defisit energi listrik hingga 305 megawatt. Kondisi ini terjadi akibat kerusakan di dua pembangkit listrik utama, yakni Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap Sicanang Belawan dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap Labuhan Angin. Pemadaman listrik bergilir pun tak bisa dicegah hingga 5 Oktober mendatang.
Menurut General Manager PLN Wilayah Sumatera Utara (Sumut) Manerep Pasaribu, kerusakan di PLTGU Sicanang terjadi pada dua gas turbin (GT). Masing-masing GT memiliki kapasitas 190 megawatt (MW). "Saat ini satu gas turbin telah selesai diperbaiki. Tinggal satu gas turbin yang belum. Jadi dari PLTGU Sicanang, kami masih defisit 190 megawatt," ujar Manerep di Medan, Senin (28/9).
Saat ini defisit total mencapai 305 MW karena terjadi juga kerusakan di salah satu unit PLTU Labuhan Angin yang memiliki kapasitas 2 x 115 MW. "Total sekarang Sumut defisit 305 megawatt karena satu unit PLTU Labuhan Angin (115 MW) juga masih rusak," ujarnya.
Manerep mengatakan, kerusakan satu GT PLTGU Sicanang Belawan terjadi karena bahan bakar pembangkit tersebut mengalami pemadatan kondensat. Sedangkan pada satu unit PLTU Labuhan Angin, kerusakan terjadi pada salah satu katup mesin pembangkit.
"Untuk kerusakan gas turbin di PLTGU Sicanang, kami sedang mengusahakan suku cadang di Jakarta. Kemungkinan besar, mulai Rabu pagi sudah satu gas turbin yang rusak ini sudah bisa beroperasi secara normal kembali. Itu dengan catatannya, spare part-nya bisa kami dapatkan di Jakarta. Kalau belum ada, terpaksa kami pesan dulu," kata Manerep.
Kerusakan yang terjadi di PLTU Labuhan Angin merupakan yang kedua kalinya sejak pembangkit ini mulai dioperasikan awal tahun ini. "Sebelumnya, sejak bulan Maret lalu, PLTU Labuhan Angin juga mengalami kerusakan pada turbin blade. Sekarang ada kerusakan pada katup mesin pembangkit, dan kemungkinan baru selesai diperbaiki pada tanggal 5 Oktober mendatang," katanya.
Manerep membantah jika kembali rusaknya PLTU Labuhan Angin karena pembangkit tersebut merupakan buatan China. Manerep mengatakan, untuk PLTU yang baru beroperasi, kerusakan kecil seperti ini biasa terjadi.
PLTU di Pulau Jawa pun sama, ada kerusakan-kerusakan kecil kalau baru mulai beroperasi. "Bedanya, ketersediaan pembangkit di Jawa lebih dari cukup sehingga jika ada kerusakan PLTU tak terasakan akibatnya oleh masyarakat, beda dengan di Sumut. Satu pembangkit rusak maka masyarakat langsung merasakan dampaknya dengan terjadinya pemadaman," ujarnya.
Menurut Manerep, kemungkinan kondisi pasokan listrik Sumut baru bisa kembali normal pada 5 Oktober, bersamaan dengan selesainya perbaikan PLTU Labuhan Angin. Sekarang masih terjadi pemadaman, tetapi tak separah sebelumnya karena satu gas turbin di PLTGU Sicanang sudah diperbaiki dan bisa beroperasi kembali, katanya.
