SINGAPARNA, KOMPAS.com - Para murid SD Budi Karya Kampung Cilaku, Desa Nangerang, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya, korban gempa Tasikmalaya membawa tikar masing-masing untuk dijadikan alas belajar di dalam tenda.
Fikri, seorang siswa SD yang ditemui di tenda pengungsian, Kamis (1/10), mengatakan, tikar yang dibawanya itu merupakan anjuran yang diwajibkan oleh guru, karena belum ada bangku untuk Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di tenda.
"Kata ibu-bapak guru disuruh bawa tikar untuk dijadikan alas belajar di tenda," kata Fikri.
Sementara itu, Kepala UPTD Pendidikan Kecamatan Cigalontang, Kastiwa, mengatakan, sebagian siswa yang membawa tikar merupakan saran para guru. Tikar-tikar itu untuk dijadikan alas duduk dan menulis ketika mengikuti KBM. Namun, sebagian siswa sekolah lain di tingkat SD, SMP dan SMA belajar menggunakan bangku dan kursi seadanya di dalam tenda besar yang dibagi antara satu dan dua kelas di setiap sekolah masing-masing.
Kastiwa mengatakan, KBM kondisi seperti itu sebagai cara darurat sambil menunggu bangunan sekolah yang rusak dan roboh kembali dibangun sehingga dapat ditempati oleh siswa dengan nyaman dan aman.
"Tenda sebagai darurat saja, karena gedung sekolahnya hancur. jadi sesuai himbauan sementara waktu belajar di tenda," katanya.
