Jumat, 25 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 25 Mei 2012 | 13:55 WIB
Perajin Tak Tahu Batik Daikui UNESCO
Eny Prihtiyani | Jumat, 2 Oktober 2009 | 17:54 WIB
|
Share:

Kompas/Riza Fathoni
Ilustrasi

BANTUL, KOMPAS.com - Sejumlah perajin batik tulis di Desa Karangtengah Imogiri, Bantul mengaku tidak tahu menahu soal pengakuan batik oleh UNESCO. Bagi mereka pengakuan tersebut tidak terlalu penting. Yang utama adalah bagaimana batik produksinya laku di pasaran sehingga ia bisa menghidupi keluarganya.

Menurutnya penjualan batik tulis masih seret karena harganya mahal. Ia berharap ada gerakan dari masyarakat kalangan menengah ke atas untuk menggunakan batik tulis. "Tidak mungkin kita menghimbau kalangan bawah untuk berbusana batik tulis. Kesadaran itu harus ditumbuhkan di kalangan orang kaya," katanya.

Selembar kain batik tulis berukuran 2,5 x 1,15 meter minimal dijual seharga Rp 250.000. Semakin rumit motif dan semakin banyak warna harga jualnya kian mahal. Untuk membatik selembar kain perajin butuh waktu sekitar 15 hari.

Hal senada juga diungkapkan Nur Ahmadi, Ketua Paguyuban Batik Giriloyo Bantul. Menurutnya, meski sudah diterapkan aturan wajib batik bagi pegawai negeri sipil, namun kebijakan itu juga tidak terlalu berdampak. Batik mereka justru produksi pabrik.

Di Dusun Giriloyo, Desa Wukirsari Bantul, jumlah perajin batik mencapai 510 orang. Untuk menjual batik mereka tergabung dalam kelompok, yang memiliki showroom sendiri di Giriloyo. Selain penjualan langsung, perajin juga menitipkan produksinya ke berbagai toko batik di Yogyakarta.

"Penjualan paling tinggi biasanya kalau ada pameran. Sayangnya event pameran yang diberikan ke kami masih minim," katanya.