Jumat, 25 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 25 Mei 2012 | 14:18 WIB
Produk China Pinggirkan Mainan Anak Tradisional
Lukas Adi Prasetya | Edj | Rabu, 7 Oktober 2009 | 20:38 WIB
|
Share:

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Mainan anak tradisional semakin terpinggirkan, tergantikan oleh mainan plastik buatan Cina yang berharga murah. Penjual mainan anak tradisional, ibaratnya bertahan sampai waktu yang tak diketahui. Berjualan mainan anak tradisional tak lagi menguntungkan.

Nuryati (67), misalnya, berjualan aneka mainan anak tradisonal di Pasar Ngasem sejak tahun 1966. Kiosnya dulu penuh menjual miniatur alat-alat masak dari tanah liat dan alumunium, seperti anglo, piring, dan cangkir. Pernah juga ia menjual dakon. Namun setahun terakhir, ia nyaris tak menambah kulakannya.

"Perajin tanah liat di Klaten tak lagi rutin memasok. Malah sepertinya sudah tidak akan memasok. Perajin bilang, sudah tidak untung jika mengirim barang ke Yogyakarta. Rugi biaya transportasi. Mainan anak, ya memang sudah nggak laku," ujarnya, Rabu (7/10).

Winarni, penjual mainan anak tradisional di Alun-alun Utara mengeluhkan hal senada. Empat tahun lalu, menurut dia, jualannya masih cukup laku. Namun sejak mainan murah-meriah asal Cina memborbardir pasaran, ia kelabakan. Praktis ia hanya mengandalkan hari libur dan ketika diadakan acara massal di Alun-alun Utara.

"Dalam satu hari, belum tentu satu mainan terjual. Sekarang, anak-anak lebih menggemari mainan asal Cina yang murah-murah harganya. Untuk tahun-tahun ke depan, saya nggak tahu apakah masih akan melanjutkan jualan mainan anak," ujarnya.

Winarni menjual aneka mainan, mulai dari timbangan mini, topeng, cambuk, senapan kayu, gangsingan bambu, othok-othok, gamelan mini, truk kayu mini, hingga satu set alam masak mini. Gamelan mini dan othok-othok misalnya, dipatok Rp 25.000 dan Rp 5.000. Barang-barang itu disetor dari pembuat mainan di Yogyakarta, Kediri (Jawa Timur), Magelang dan Solo (Jawa Tengah).

Sementara itu, toko penjual mainan buatan Cina, seperti yang ada di Wijilan, cukup laris. Purwati, salah satu karyawan toko mainan anak di Wijilan mengatakan, pedagang mainan di seluruh DIY, termasuk dari Gunung Kidul dan Kulon Progo kulakan darinya. Anak-anak sekolah adalah konsumen terbesar pedagang mainan anak tersebut.

Puluhan, bahkan ratusan produk, bisa terjual tiap hari. "Kami menjual eceran dan per bungkus," kata Purwati. Harga mainan anak di tempatnya bervariasi, dari Rp 500-Rp 25.00 per mainan.