Sabtu, 19 April 2014

/ Bisnis & Keuangan

Usaha Manisan Mangga Cirebon

Sabtu, 10 Oktober 2009 | 05:43 WIB

Baca juga

 Oleh Timbuktu Harthana

KOMPAS.com - Melimpahnya buah mangga di Cirebon merupakan sumber produk makanan olahan yang kaya rasa. Salah satunya, manisan mangga buatan keluarga Handrawati (45) yang menjadi oleh-oleh khas dari ”Kota Udang” ini.

Tak banyak orang tahu, sebagian manisan mangga yang dibeli wisatawan di toko oleh-oleh di Kota Cirebon itu berasal dari sebuah rumah sederhana di Jalan Garuda, Kota Cirebon.

”Hampir 80 persen manisan mangga yang kami buat dibeli toko oleh-oleh tanpa merek. Mereknya mereka buat sendiri sesuai nama toko masing-masing atau nama dagangnya. Hanya 20 persen yang pakai merek kami sendiri,” ujar Handrawati, yang menggunakan merek Taci Kembar pada produk manisan mangganya.

Saat ini, sudah mulai banyak pelancong yang datang ke Cirebon mengenal manisan mangga Taci Kembar. Mereka terkadang sengaja datang ke rumah Wawa, panggilan akrab Handrawati. Dia sudah merintis bisnis ini selama 30 tahun.

Sukses bisnis Wawa diraih berkat kegigihan. Jatuh bangun dan kegagalan usaha dalam usaha manisan mangga sudah pernah dialaminya.

Semua anggota keluarganya pun ikut terlibat dalam memasarkan manisan mangga ini. ”Kami dari keluarga biasa. Kalau barang tidak terjual, kami tidak bisa sekolah. Jadi, di sekolah, saya juga jualan manisan mangga,” kenang Wawa.

Usaha pembuatan manisan mangga dimulai sebelum tahun 1970 oleh almarhum kakak perempuan dari ayah Handrawati.

Mulai tahun 1980-an, usaha pembuatan manisan mangga diteruskan Handoko, ayah Handrawati. Karena respons pasar bagus, pemasaran mulai diperluas sampai ke Bandung, Cianjur, Jakarta, Semarang, dan Surabaya.

Asli dan alami

Satu hal yang selalu menjadi komitmen usaha Wawa selama puluhan tahun adalah terus mempertahankan resep asli dan alami manisan buatan keluarganya. Menurut dia, konsumen sekarang sangat kritis sehingga mereka akan memilih yang terbaik untuk mereka konsumsi.

Oleh karena itu, keaslian cita rasa harus dijaga. Salah satunya, menggunakan mangga segar dan tidak menggunakan bahan pengawet.

Semua mangga yang diproses adalah mangga yang baru dibeli dari petani di daerah Ciledug dan Tengah Tani, Kabupaten Cirebon. Jenis mangga yang dibeli terdiri dari cengkir, golek, kidang, dan mangga lalijiwo.

Tidak ada mangga yang distok lebih dari seminggu. Akibatnya, proses produksi hanya berjalan selama delapan bulan, hanya saat panen mangga.

Mangga-mangga itu langsung dikupas, direndam dengan garam selama sehari semalam untuk menghilangkan getah. Kemudian direndam dengan air gula selama dua hari. Selanjutnya, dijemur di bawah terik matahari selama 3-4 hari sampai benar-benar kering.

Tidak memakai bahan kimia pengawet dan pengeras atau mesin pengering. Semua proses pembuatan masih alami dan tradisional sehingga rasa yang ditimbulkan juga alami.

”Rasa tidak bisa bohong, Mas. Biarpun (harganya) lebih mahal, kalau rasanya enak, pasti tetap dicari,” ujar Wawa yang kini menjalankan usahanya bersama adik perempuannya.

Selama 6-8 bulan, sekali produksi, Taci Kembar membutuhkan 100 kilogram mangga, yang bisa menghasilkan 15 kg manisan mangga berbagai jenis.  Pembuatan manisan mangga 5-7 hari bergantung pada cuaca. Jika musim hujan, akan lebih lama karena tidak banyak sinar matahari untuk menjemur.

Saat ini, harga manisan mangga Taci Kembar dijual Rp 40.000-Rp 60.000 per kg. Ukuran kemasan yang ditawarkan mulai dari 100 gram, 250 gram, 500 gram, sampai 1 kg. Manisan mangga juga dijual hingga ke Jakarta, Surabaya, dan Pulau Dewata Bali.


Editor : jimbon
Sumber: