JAKARTA, KOMPAS.com — Realisasi penarikan pinjaman luar negeri dipastikan akan bertumpuk di akhir tahun karena hingga akhir Agustus 2009, total utang asing yang diterima pemerintah mencapai Rp 15,71 triliun atau baru 27,3 persen dari target pinjaman yang seharusnya ditarik, yakni Rp 57,61 triliun.
Sebagian pinjaman belum bisa ditarik karena masih dalam tahap negosiasi atau menunggu realisasi pelelangan proyeknya. Pinjaman program yang telah selesai negosiasi segera diajukan pencairannya.
"Sesuai dengan tujuan awalnya untuk mendukung APBN, pencairan pinjaman program memang direncanakan pada bulan November dan Desember 2009," ujar Direktur Jenderal Pengelolaan Utang, Departemen Keuangan, Rahmat Waluyanto di Jakarta, Rabu (14/10).
Menurut Rahmat, pagu pinjaman program tahun 2009 ditetapkan pada Rp 31,89 triliun, dan hingga akhir Agustus 2009 sudah terealisasi Rp 3,44 triliun atau 10,8 persen dari pagunya.
Pinjaman program itu berasal dari Bank Dunia, Rp 1,42 triliun, dan Jepang, Rp 2,02 triliun. Adapun pagu pinjaman proyek ditetapkan sebesar Rp 25,72 triliun dan baru dicairkan Rp 12,27 triliun atau 47 persen dari targetnya.
Dengan demikian, total pinjaman luar negeri tahun ini adalah Rp 57,61 triliun dan baru terealisasi Rp 15,71 triliun atau 27,3 persen. Khusus untuk pinjaman program yang statusnya belum terealisasi sampai saat ini, sebenarnya pinjaman itu telah memasuki tahap pemenuhan persyaratan policy matrix (penjadwalannya).
"Saat ini pinjaman program tersebut sedang dalam tahap negosiasi," ungkap Rahmat. Sementara itu, realisasi pinjaman proyek yang mencapai 47 persen dari target 2009 menunjukkan pola yang sama dengan realisasi tahun 2008, yakni ketika memasuki bulan September-Oktober, proyek-proyek yang dibiayai pinjaman memasuki proses pelelangan dan sedang dalam tahap pelaksanaan kontrak.
"Pada umumnya, di akhir Oktober, proyek-proyek akan memasuki tahap penyelesaian pekerjaan dan kemudian mereka mengajukan realisasi pembayaran pada awal November," ungkap Rahmat.
Dalam APBN 2009, sebenarnya ada lima sumber utama pinjaman luar negeri yang sudah memberikan komitmen, yakni Bank Dunia, Jepang, Bank Pembangunan Asia (ADB), dan Pemerintah Perancis, serta berbagai sumber lainnya. Namun, hingga saat ini, ADB belum merealiasikan pinjaman programnya yang ditargetkan senilai Rp 5,8 triliun. Adapun Perancis sebesar Rp 2,19 triliun.


