JAKARTA, KOMPAS.com - Kurs rupiah terhadap dollar AS di pasar spot antarbank Jakarta, Senin (19/10) pagi melemah 85 poin mendekati Rp 9.500 per dollar AS, meski sejumlah analis memperkirakan akan dapat mencapai level Rp 9.000 per dollar AS.
Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS mencapai Rp 9.475-Rp 9.485 per dollar AS dibanding penutupan akhir pekan lalu Rp 9.390-Rp 9.400.
Analis Valas PT Bank Himpunan Saudara Tbk, Rully Nova di Jakarta, Senin mengatakan, rupiah melemah, karena faktor negatif dari eksternal menekan pasar uang, sehingga mendorong melemahnya mata uang Indonesia. Merosotnya saham-saham Wall Street akibat laporan dari Bank of America dan General Electric yang negatif menurunkan minat investor, setelah sebelumnya mencatat kenaikan kuat.
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 65,52 poin (0,65 persen) ditutup pada 9.995,91, meluncur di bawah level kunci 10.000 yang dicapai pada Rabu untuk pertama kalinya lebih dari satu tahun.
Selain itu melemahnya rupiah juga yang cukup tinggi akibat aksi lepas rupiah, setelah mata uang itu mengalami kenaikan tajam. Penyebab lain dari keterpurukan rupiah itu, menurut dia,kekhawatiran pelaku asing terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia akibat berbagai gempa yang terjadi di dalam negeri. "Selain itu pelaku pasar juga masih menunggu laporan pembentukan kabinet baru pada 21 Oktober, setelah dilakukan uji kelayakan," ucapnya.
Ia mengatakan, pelaku asing untuk sementara hanya melepas rupiah dan pada gilirannya nanti akan kembali membeli rupiah karena pasar Indonesia dinilai masih potensial. "Karena itu peluang rupiah untuk menguat lagi masih cukup besar," katanya.

