JAKARTA, KOMPAS.com - Harga minyak turun di perdagangan Asia Senin (19/10) karena dollar AS kembali menguat terhadap mata-mata uang utama lainnya.
Kontrak utama New York, minyak mentah jenis light sweet pengiriman November turun 12 sen menjadi 78,41 dollar per barrel setelah penutupan pada posisi 78,53 dollar AS per barrel pada Jumat lalu, tingkat tertinggi sejak Oktober 2008. Minyak mentah Brent pengiriman Desember turun 14 sen menjadi 76,85 dollar AS per barrel.
"Berbalik menguatnya kembali dollar AS terhadap euro dan unit-unit mata uang utama lainnya merupakan faktor utama penurunan dalam harga minyak," kata analis.
Pasar-pasar minyak di mana "sangat banyak dipengaruhi oleh mata uang tersebut," kata Mark Pervan, seorang stretegi komoditi senior untuk ANZ Bank di melbourne, Australia.
Menguatnya dollar telah mendorong para investor memiliki mata uang asing lebih lemah dari pembelian minyak mentah yang dihargakan dalam mata uang tersebut.
Harga minyak mentah menguat dalam beberapa sesi baru-baru ini, terutama didorong oleh pelemahan dollar yang mendorong keinginan besar investor untuk aset-aset keras seperti minyak dan komoditi-komoditi lainnya karena mereka berusaha melindungi kesehatan mereka dari penurunan unit AS.
Di perdagangan Asia, Senin, dollar berada pada posisi 90,98 yen dibanding dengan 90,87 yen pada akhir perdagangan AS Jumat. Euro berpindah tangan pada posisi 1,4856 dollar atau turun dibanding 1,4903 pada Jumat.
Pervan mengatakan bahwa pasar-pasar akan menjadi data ekonomi yang dicari yang dijadwalkana diterbitkan pekan ini seperti data ekonomi kuartal III dari China serta angka perumahan AS untuk September.
Harga minyak menurun dari rekor tinggi historis yang mencapai lebih dari 147 dollar AS per barel pada Juli 2008, menjadi sekitar 32 dollar AS pada Desember dikarenakan resesi global, tetapi kini mulai pulih kembali.

