Jumat, 25 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 25 Mei 2012 | 16:07 WIB
Masyarakat Puas Kinerja SBY di Bidang Ekonomi, tapi...
Frans Agung Setiawan | Edj | Selasa, 20 Oktober 2009 | 15:56 WIB
|
Share:

JAKARTA, KOMPAS.com — Secara umum masyarakat Indonesia merasa puas dengan kinerja Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di bidang ekonomi dalam 5 tahun terakhir pemerintahannya. Tentu, untuk pemerintahan berikutnya SBY tetap didesak melakukan perubahan berarti karena soal ekonomi masih menjadi masalah besar. "Hampir semua bagus yang paling rendah (persentasenya) adalah harga kebutuhan pokok," kata Fajar Nursahid, Kepala Devisi Penelitian Lembaga Penelitian, Pendidikan, Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) dalam penyampaian hasil survei Pesan Publik untuk SBY-Boediono di kantornya, Jakarta, Selasa (20/10).

Berdasarkan survei, sebagaimana disampaikan oleh Fajar, sebanyak 73 persen responden puas terhadap SBY dalam keterjangkauan harga BBM, 71 persen untuk kesempatan kerja, 64 persen dalam pembangunan infrastruktur, dan 56 persen untuk kebijakan harga barang kebutuhan pokok.

Mengingat survei ini merupakan polling telepon maka masyarakat yang memberikan pendapat adalah golongan menengah ke atas. Ada kemungkinan para responden dalam menyampaikan sikapnya tidak tersentuh oleh persoalan ekonomi yang ditanyakan. "Namun, (polling) telepon penting karena lebih mampu untuk memberi respons pada kebijakan publik. Dan mereka bisa menilai (persoalan) apa yang terjadi di masyarakat," jelas Fajar.

Sekalipun sebagian besar masyarakat puas, lanjutnya, mereka tetap memberikan catatan pada SBY untuk pemerintahan berikutnya. Terkait penyediaan tenaga kerja menjadi prioritas utama, yakni 48 persen responden, menghendaki SBY segera menanganinya. Berikutnya 23 persen berharap harga sembako diturunkan, 14 persen meminta penyediaan modal usaha kecil, dan 7 persen penurunan harga BBM. "Ini inspirasi masyarakat dan nota kepada pemerintahan SBY," ujarnya.

Terkait soal penyediaan lapangan kerja, Wakil Direktur LP3ES Sudar Dwi Atmanto menilai hal ini merupakan faktor terpenting dalam kesejahteraan rakyat. "Ini berafiliasi pada bidang sosial dan tingkat daya beli masyarakat. Masyarakat merindukan lapangan kerja dibandingkan dengan pendidikan," papar Sudar.

Survei ini merupakan hasil wawancara melalui telepon pada 14 dan 15 Oktober 2009. Jumlah sampel 1.990 orang yang ditentukan secara sistematis berdasarkan buku telepon residential yang diterbitkan PT Telkom yang mewakili masyarakat pengguna telepon di 33 ibu kota provinsi. Sebesar 50:50 perempuan dan laki-laki yang mayoritasnya berusia 36-50 tahun dengan tingkat pendidikan akhir perguruan tinggi dan SMA. Margin of error lebih kurang 2 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. "Soal biaya (dari kami) sendiri," sebut Suhardi Suryadi, Direktur LP3ES.