JAKARTA, KOMPAS.com — Pro kontra dan kritik tajam dilayangkan terhadap komposisi Kabinet Indonesia Bersatu II yang dibentuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama Wakil Presiden Boediono. Belum lagi bekerja, sejumlah menteri yang dinilai tak layak menempati posnya diragukan kapabilitas dan kinerjanya. Pengamat ekonomi, Fadhil Hasan, mengatakan, para menteri perlu diberikan kesempatan bekerja. Waktu akan membuktikan kemampuan mereka.
"Baiknya kita memberikan kesempatan kepada para menteri baru ini untuk bekerja," kata Fadhil, pada diskusi "Kabinet Baru, Presiden Lama", Sabtu (24/10) di Jakarta.
Khusus untuk bidang perekonomian, Fadhil menyoroti bahwa dari sisi ekonomi, SBY mempertahankan dua menteri wajah lama, yaitu Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Menteri Perdagangan Marie Elka Pangestu. Akan tetapi, dari sisi sektoralnya, SBY justru melakukan pergantian menteri secara masif. Oleh karena itu, menurut dia, Menko Perekonomian Hatta Rajasa harus mampu mengoordinasikan antarkementerian ekonomi.
"Akan menjadi tugas berat bagi Hatta Rajasa karena dia akan mengomandoi kementerian sehingga tugasnya semakin berat. Dengan pengalamannya, Hatta diharapkan bisa menjadi motor penggerak. Walaupun kenyataannya, kita harus menerima bahwa Hatta selama ini tidak pernah bersinggungan dengan macro economy policy," papar Fadhil.
Pelaku usaha yang juga pengamat tata negara, Ismed Hasan Putro, juga menyerukan hal yang sama. Di balik kekurangan penempatan menteri di kabinet baru, seluruh elemen masyarakat harus memberikan kesempatan kepada mereka untuk bekerja.
"Pola rekrutmennya memang masih politik akomodasi sehingga kita lihat banyak menteri yang menjadi tanda tanya besar ketika ditempatkan di kementerian tertentu. Tapi marilah kita beri kesempatan mereka untuk belajar dan bekerja," kata Ismed.

