JAKARTA, KOMPAS.com - Keberadaan infrastruktur dan pasokan listrik di Indonesia belum dapat dinikmati jutaan penduduk. Padahal infrastruktur dan pasokan listrik amat penting untuk kesejahteraan rakyat.
Demikian disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Darwin Saleh, Selasa (27/10), dalam peringatan Hari Listrik Nasional ke-64, di Jakarta. "Infrastruktur dan pasokan listrik sangat penting untuk kesejahteraan masyarakat dan lapangan kerja," ujarnya.
Karena itu, dalam lima tahun ke depan pembangunan infrastruktur dan penambahan pasokan listrik menjadi prioritas utama dalam program ESDM. Program percepatan pembangkit listrik dengan daya 10.000 Mega Watt (MW) memiliki dua nilai, penanggulangan krisis listrik dan bahan bakar serta menerapkan program bauran energi.
"Keterlambatan program 10.000 MW bisa membebani APBN, saya menekankan agar percepatan 10.000 MW diselesaikan tepat waktu, tepat biaya dan tepat kualitas," ujarnya.
Di satu sisi, ketergantungan terhadap listrik sangat tinggi tetapi di sisi lain ada tuntutan untuk mengurangi emisi CO2. Karena itu perlu dicari energi alternatif yang lebih ramah lingkungan, baik tenaga air dan panas bumi.
"Mengurangi emisi CO2 saat ini menjadi isu global. Pemanfaatan tenaga hidro bisa mengurangi pada bahan bakar fosil," ujarnya menambahkan.
Program 10.000 MW tahap dua sebagian besar memanfaatkan hidro dan panas bumi. "Kita ingin memastikan program tersebut dengan baik," ujarnya.
Untuk itu perlu dibuat kebijakan antar departemen yang terintegrasi, terutama menteri koordinator perekonomian, menteri keuangan, menteri ESDM, dan menteri negara BUMN untuk meraih investasi di sektor geotermal.
"Efisiensi itu penting, peluang efisiensi lainnya adalah dengan good corporate government baik untuk keperluan investasi dan operasi," kata Darwin.

