LONDON, KOMPAS.com - Royal Dutch Shell Plc dan BP Plc, dua produsen energi terbesar di Eropa, kemungkinan membukukan pendapatan yang lebih rendah di kuartal ketiga. Pasalnya, keduanya mencoba mengurangi biaya dan meningkatkan aliran dana segar setelah harga minyak mulai terjungkal sebesar 42 persen dari tahun lalu.
Chief Executive Officer Shell Peter Voser menjual aset, menggabungkan sejumlah unitnya dan memangkas pekerjaan untuk mengembalikan kemerosotan produksi. Sementara itu, Tony Hayward, kompetitor Shell di BP, juga mematok simpanan tambahan setelah memangkas ongkos-ongkos.
"Dua produsen yang bisa mengendalikan ongkos tersebut akan dihargai," kata Gianna Bern, President of Brookshire Advisory & Research Inc. di Flossmoor, Illinois.
BP kemungkinan akan melaporkan labanya besok; tidak termasuk one time item dan perubahan persediaan yang terkikis 64 persen menjadi 3,19 miliar dollar AS dari 8,88 miliar dollar AS tahun lalu. Hal ini mencuat dari perkiraan tengah delapan ekonom yang disurvei oleh Bloomberg. Sementara itu, Shell akan melaporkan pendapatannya pada 29 Oktober 2009 dan kemungkinan anjlok menjadi 2,44 miliar dollar AS dari 8,04 miliar dollar AS.
"Laba sudah bisa dipastikan akan turun karena harga komoditi juga turun," kata Andy Lynch dari Schroders Investment Managers di London.Menurutnya, setiap perusahaan mencoba untuk memangkas ongkos lantaran bisnis yang digelindingkan masih harus terus berjalan.
Menurut ING Wholesale Banking, produksi BP kemungkinan naik 5,2 persen di kuartal ketiga menjadi 3,85 juta barel per hari; bandingkan dengan prediksi untuk Shell yang hanya naik 0,1 persen menjadi 2.93 juta barrel per hari. (Femi Adi Soempeno/Kontan)


