JAKARTA, KOMPAS.com - 81 tahun lalu, pemuda Indonesia menjadi pelopor dalam kebangkitan bangsa dalam bidang politik. Sekarang, dalam peringatan Sumpah Pemuda diharapkan menjadi pelopor dalam usaha membangun bangsa yang sejahtera dengan menjadi wirausahawan (entrepreneur). "Menjadi perombak menuju bangsa yang sejahtera, bukan merdeka, karena kita sudah merdeka. Caranya adalah menciptakan peluang kerja bukan mencari kerja," kata Ciputra, tokoh wirausahawan Indonesia di Jakarta, Rabu (28/10).
Menurutnya berdasarkan data Februari 2008 ada 1,1 juta pengangguran lulusan perguruan tinggi. Jumlah ini terus naik, karena menciptakan sarjana mudah, tapi untuk menciptakan sarjana yang bisa menciptakan lapangan pekerjaan adalah kerja yang tidak sederhana. "Ada penelitian yang mengatakan 3 dari 10 tukang ojek adalah sarjana," ungkap Ciputra.
Lebih lanjut, ia menuturkan, ada 2 alasan mengapa generasi muda sekarang sulit menjadi usahawan. Pertama, karena kita telah dijajah selama 350 tahun. Selama masa itu kita tidak diberi kesempatan untuk menjadi usahawan, kecuali orang Tiongkok dan India. Kedua, pendidikan kita mengarahkan peserta didik untuk menjadi pekerja bukan untuk menciptakan lapangan pekerjaan. "Minimal 2 persen penduduk menjadi entrepreneur. Tapi Indonesia baru 0,18 persen atau 400.000 orang yang seharusnya 4,4 juta," tutur Ciputra.
Untuk itu, ia berharap supaya generasi sekarang mampu memacu dirinya untuk menjadi usahawan. Sehingga mampu mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Peringatan Sumpah Pemuda menjadi saat yang tepat untuk memulainya.

