MEDAN, KOMPAS.com - Ekspor karet asal Sumatera Utara diperkirakan baru pulih tahun depan, seiring membaiknya kondisi perekonomian di negara-negara pasar utama seperti Jepang dan China pascakrisis keuangan global. Sebelumnya, volume ekspor karet Sumatera Utara pada periode Januari hingga September 2009 turun 16,7 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumatera Utara (Sumut) Edy Irwansyah menuturkan, volume ekspor karet Sumut periode Januari-September 2009 mencapai 315.582 ton. Sedangkan volume ekspor pada periode yang sama tahun lalu mencapai 378.782 ton. "Ada penurunan volume ekspor sebesar 16,7 persen dibanding periode yang sama tahun lalu," ujar Edy di Medan, Rabu (28/10).
Dia mengatakan, kemungkinan volume ekspor karet Sumut kembali meningkat pada tahun depan, seiring membaiknya perekonomian di Jepang dan China. "Saat ini industri otomotif di kedua negara ini mulai tumbuh kembali. Ekspor karet alam Indonesia kan sangat bergantung pada pertumbuhan industri otomotif, karena 70 persen pasar dunia untuk karet alam diserap ke industri ban yang berhubungan erat dengan industri otomotif," katanya.
Selain itu, pasar seperti China dianggap paling resisten terhadap krisis keuangan global, sehingga Edy optimistis, akan ada peningkatan volume ekspor pada tahun depan. "Kami juga terus mencari alternatif pasar di luar tiga negara pasar utama ekspor karet alam, Amerika Serikat, Jepang dan China. Sekarang ini, India menjadi pasar potensial kami, mengingat industri otomotif di sana juga tumbuh pesat," ujar Edy.
Meski mengalami penurunan volume ekspor, Edy mengungkapkan harga karet di pasar internasional justru relatif membaik. Saat ini harga meningkat lebih dari dua kali lipat dibanding akhir tahun lalu. "Harga karet sempat berada pada titik terendah pada tanggal 12 Desember 2008, yakni 1,02 dollar AS per kilo gram, sementara sekarang harga sudah mencapai 2,315 dollar AS," katanya.
Harga membaik
Membaiknya harga ini menurut Edy dipicu oleh kebijakan ITRC (International Tripartite Rubber Council) yang terdiri dari tiga negara utama pengekspor karet alam, Indonesia, Thailand dan Malaysia, menahan ekspor karet pada akhir tahun lalu. "Begitu harga berada pada titik terendah pada 12 Desember 2008, ITRC memangkas produksi hingga 10 persen. Ini jelas berpengaruh karena tiga negara ini memasok 70 persen pasar karet alam dunia," katanya.
Selain itu, lanjut Edy, depresiasi nilai tukar Yen Jepang dan Yuan China terhadap rupiah ikut membantu kenaikan harga karet di pasar internasional. "Faktor perubahan nilai tukar mata uang ini ikut membantu juga. Fluktuasi harga karet sangat dipengaruhi oleh nilai tukar mata uang di negara-negara pasar utama," ujarnya.
Kepala Pusat Penelitian Karet Chairil Anwar mengatakan, mestinya di saat harga karet di pasar dunia membaik, petani karet mulai memikirkan peremajaan kebunnya. Menurut dia, dengan tingkat harga di atas 2 Dolar AS perkilo gram, sebenarnya produksi karet lebih menjanjikan dibandingkan komoditi lain seperti sawit. Akan tetapi persoalannya, petani karet rakyat masih enggan meremajakan kebunnya mengingat, ketiadaan jaminan pendapatan selama lima tahun ke depan, atau semasa karet yang diremajakan ini belum menghasilkan.

