JAKARTA, KOMPAS.com — Kurs rupiah terhadap dollar AS di pasar spot antarbank, Jakarta, Selasa (3/11) pagi, menguat 10 poin karena pelaku pasar membeli rupiah yang terpicu membaiknya saham di Wall Street dan Eropa setelah keluar data manufaktur Amerika Serikat yang lebih baik daripada perkiraan sebelumnya.
Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS naik menjadi Rp 9.550-Rp 9.560 per dollar dibandingkan penutupan hari sebelumnya, Rp 9.560-Rp 9.570 dollar AS.
Direktur Retail Banking PT Bank Mega Tbk Kostaman Thayib di Jakarta, Selasa, mengatakan, kenaikan rupiah itu terpicu oleh data AS yang positif sehingga memicu pelaku pasar melakukan aksi beli terhadap rupiah. "Kami optimistis rupiah akan kembali menguat pada penutupan sore nanti karena pasar cenderung makin positif," ucapnya.
Ia memperkirakan, rupiah akan bisa menembus angka Rp 9.500 per dollar AS karena kenaikan itu juga terdorong oleh masuknya Bank Indonesia ke pasar untuk melakukan intervensi untuk menahan rupiah tidak mendekati angka Rp 10.000 per dollar AS. "Apabila rupiah sampai pada level Rp 10.000 per dollar AS, dikhawatirkan akan terus melemah hingga menjauhi angka tersebut," ujarnya.
Ditanya kasus KPK berkaitan dengan rupiah, menurut dia, sedikit banyak memang berpengaruh sehingga pelaku asing cenderung melepas rupiah karena mereka khawatir dengan masalah hukum di Indonesia. "Namun, kasus KPK dengan Polri diperkirakan tidak akan berlangsung lama karena kedua pihak menyadari kekeliruan yang dibuatnya," katanya.
Kostaman Thayib mengatakan, rupiah meski agak tersendat untuk kembali, tetapi diperkirakan mata uang lokal itu pada akhir tahun akan dapat mencapai angka di bawah level Rp 9.500 per dollar AS. "Rupiah akan bisa berada di kisaran Rp 9.300 sampai Rp 9.400 per dollar AS," ujarnya.

