
JAKARTA, KOMPAS.com — Memperingati ulang tahun ke-25, The Standing Committee for Economic and Trade Cooperation (COMCEC OIC) menggelar forum bisnis yang diselenggarakan di Istanbul, Turki, pada 5-6 November 2009. Forum bisnis OIC-COMCEC kali ini membahas tentang dampak krisis keuangan global terhadap negara-negara yang tergabung dalam OIC.
"Keikutsertaan Indonesia dalam forum ini diharapkan dapat meningkatkan kerja sama Indonesia dengan negara-negara anggota OIC dalam bidang UMKM," kata Sandiaga S Uno, Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia Bidang UMKM dan Koperasi, yang hadir sebagai wakil Indonesia dalam Forum International tersebut, Jumat (6/11).
Menurut Sandiaga, Indonesia merupakan pasar yang potensial bagi negara-negara OIC. Sebab, selain kaya akan sumber daya alam, pertambangan yang belum banyak dieksplor Indonesia juga merupakan pasar yang sangat besar bagi pertumbuhan sukuk (obligasi syariah).
Ihwal UMKM, diungkapkan bahwa negara-negara di OIC adalah pasar yang sangat besar bagi UMKM di Indonesia. Selain didominasi sektor jasa 44 persen, sektor yang memainkan peranan penting dalam OIC adalah sektor manufaktur 15 persen. Karenanya, potensi pasar terbuka lebar bagi UMKM Indonesia yang banyak bergerak pada sektor jasa dan manufaktur.
"Saya berharap UMKM di indonesia harus lebih serius untuk berkembang, belajar, dan meningkatkan daya saing produknya sehingga pasar yang sudah terbuka tidak dimanfaatkan oleh negara lain," ujar Sandiaga.
Menurut Ketua Kadin Timur Tengah dan Organisasi Konferensi Islam Fachry Thaib, yang juga hadir dalam forum itu, pertemuan ini adalah tindak lanjut pertemuan tiga tahun lalu di Istanbul untuk mempererat kerja sama perdagangan antara 57 negara OIC, terutama menuju kenaikan ekspor Indonesia ke negara-negara Timur Tengah.
Dalam pemaparannya yang disampaikan dalam forum tersebut, Sandiaga menyebutkan beberapa rekomendasi dalam rangka pengembangan kerja sama di antara negara OIC.
"Pertama, dibutuhkan integrasi yang solid yang dapat menghilangkan hambatan-hambatan perdagangan, aliran modal, dan informasi. Kedua, perlunya investasi infrastruktur untuk menunjang dan mempermudah arus perdagangan. Ketiga, koordinasi kebijakan atau policy cooperation antara negara-negara OIC," jelas Sandiaga.