Brand Tidak Ada Gunanya Tanpa Karakter - Kompas.com

Brand Tidak Ada Gunanya Tanpa Karakter

Kompas.com - 10/11/2009, 08:44 WIB

KOMPAS.com - “Di masa depan, semua orang akan menjadi terkenal dalam 15 menit.” Demikian yang diprediksikan oleh Andy Warhol pada tahun 1968 lewat ungkapannya ’15 menit’ yang terkenal.

Di era New Wave seperti sekarang, tentunya prediksi artis legendaris tersebut sudah kurang lebih menjadi kenyataan. Di jaman yang serba canggih dan saling terhubung seperti sekarang, setiap orang bisa mencapai ketenaran (asal mau) dengan serba instan. Dengan adanya YouTube, Facebook, Flickr, dan lain sebagainya, sangat mudah bagi orang untuk menjadi terkenal. Dan sudah banyak contohnya. Bisa Anda lihat sendiri di sebuah masukan dari Wikipedia mengenai daftar fenomena internet, mulai dari Honglaowai (orang Amerika yang suka menyanyikan lagu komunis dengan bahasa Cina) sampai Judson Laipply (dengan Evolution of Dance-nya).

Seiring dengan perkembangan jaman, selama empat dekade ungkapan 15 menit dari Andy Warhol memang terus ‘direvisi’ oleh banyak orang. Momus, seorang artis dari Skotlandia, pernah mengatakan di tahun 1991 bahwa “…di masa depan, semua orang bisa terkenal setidaknya di hadapan 15 orang.” Ungkapan ini kini dikembangkan lagi oleh banyak orang, terutama para aktivis di dunia Web 2.0, yang mengatakan “…dengan internet, setidaknya jika Anda tidak berhasil untuk mencapai ketenaran selama 15 menit, Anda dapat terkenal di hadapan 15 orang.”

Dalam konteks pop marketing, kami tertarik dengan apa yang dikatakan oleh majalah Rolling Stone di dalam editor’s note-nya barusan ini, bahwa dunia digital saat ini semakin membunuh merek band (brand) yang superstar. Sebagaimana yang dikatakan di sana “Nama besar tidak penting. Lagu adalah kunci utama.”

Menurut kami sendiri, perubahan dari analog ke digital di industri musik, tentunya telah merubah banyak hal baik di sisi supply dan di sisi demand. Proses produksi musik jadi lebih mudah, dan untuk mengkonsumsi produk musik pun juga tentunya menjadi lebih gampang. Dan semua itu terjadi karena semakin banyaknya konektor di dunia offline dan online, yang sifatnya eksperiensial, mobile, dan sosial, yang ada di mana-mana, here, there, and everywhere.

Di era New Wave seperti sekarang, ketenaran bisa didapati secara instan. Evan Brimob contohnya bisa mendadak terkenal dalam hitungan menit. Dan bisa mendadak terkenal di hadapan masyarakat umum sampai presiden.

Dunia New Wave sarat dengan orang amatir yang tampil. Dengan adanya konektor, orang-orang yang amatir pun bisa membuat sesuatu, memasarkan sesuatu, dan menjadi tenar. Ketenaran bisa cepat didapati, bisa cepat pula meredup. Orang bisa terkenal dalam sehari di internet, dan nyaris tak terdengar lagi di hari kedua. Makanya untuk menjadi tenar secara sustainable, harus ada karakter yang konsisten dan memiliki nilai otentisitas.

Di era New Wave, yang menjadi penting bukan lagi brand-building, tapi character-building. Tugas pemasar adalah membangun dan menjaga karakter sesungguhnya dari brand. Dalam hal ini, yang menjadi penting adalah bagaimana membangun sebuah karakter yang baik dan manusiawi agar dapat diterima lebih mudah di tengah komunitasnya.

Kami tertarik dengan apa yang dikatakan Josephson Institute yang mengatakan bahwa pada dasarnya ada enam dasar karakter yang baik dari seorang manusia; truthfulness, respect, responsibility, fairness, care, dan citizenship. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa pemasaran, artinya pembangunan karakter yang dilakukan oleh pemasar di era New Wave harus berlandaskan nilai-nilai yang terkait dengan kejujuran, saling menghormati, tanggung-jawab, prinsip keadilan, peduli satu sama lain, dan jiwa ‘merakyat’ yang horisontal. Tanpa karakter seperti ini, brand di era New Wave akan kosong melompong. A brand, without character, is nothing.

EditorEdj
Close Ads X