Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 22:38 WIB
Diterpa Cari Untung, Rupiah Melemah
| Edj | Selasa, 10 November 2009 | 09:34 WIB
|
Share:

JAKARTA, KOMPAS.com — Kurs rupiah terhadap dollar AS di pasar spot antarbank, Jakarta, Selasa (10/11) pagi, turun 10 poin menjadi Rp 9.425-Rp 9.435 per dollar AS dibandingkan penutupan hari sebelumnya, Rp 9.415-Rp 9.425, karena pelaku melakukan aksi lepas terhadap rupiah.

"Aksi lepas rupiah oleh pelaku pasar hanya untuk mencari untung setelah rupiah pada hari sebelumnya menguat hingga mencapai angka Rp 9.400 per dollar AS," kata Direktur Retail Banking PT Bank Mega Tbk Kostaman Thayib di Jakarta, Selasa.

Menurut Kostaman Thayib, pelaku pasar juga mengkhawatirkan berbagai masalah di dalam negeri yang terjadi akhir-akhir ini akan membuat pertumbuhan ekonomi terganggu. "Kasus Bank Century serta kisruh KPK dan Polri yang berkepanjangan diperkirakan akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi lebih lanjut," ucapnya.

Meski ada kekhawatiran, lanjut dia, Indonesia masih merupakan harapan dari para pemodal asing untuk meraih keuntungan yang lebih besar karena selisih bunga rupiah terhadap dollar AS masih tinggi. "Pelaku asing kemungkinan masih menahan diri dan tetap ingin bermain di pasar domestik. Namun, apabila muncul kasus-kasus lainnya dikhawatirkan mereka akan mengalihkan dananya ke pasar lain," katanya.

Ia mengatakan, pelaku pasar masih percaya terhadap pasar domestik karena itu pemerintah diminta harus dapat menuntas berbagai persoalan yang muncul di pasar. "Mereka juga masih khawatir dengan makin membengkaknya defisit anggaran pendapatan belanja Amerika Serikat yang diperkirakan akan meningkat," ujarnya.

Kondisi ini, menurut dia, akan memicu rupiah kembali menguat. Namun, untuk bisa mencapai angka Rp 9.200 per dollar AS diperkirakan akan sulit. Rupiah kemungkinan hanya akan dapat mencapai angka Rp 9.300 per dollar AS.

Sebelumnya, pengamat pasar uang, Fauzi Ichsan, mengatakan, rupiah antara Rp 9.200 dan Rp 9.300 per dollar AS.

Ia mengatakan, defisit anggaran AS yang terus membengkak dan pelaku dunia yang juga sudah mulai meninggalkan dollar AS karena tingkat bunga utama AS yang rendah akan mendorong pelaku lebih cenderung memilih memegang rupiah. "Kami optimistis rupiah masih berpeluang untuk naik lagi pada akhir tahun, akan berkisar Rp 9.200 sampai Rp 9.300 per dollar AS," ucapnya.

Sumber :
ANT