Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 11:35 WIB
Bintang Bayar 910.000 Dollar AS Klaim Bom Kuningan
| Edj | Selasa, 10 November 2009 | 10:42 WIB
|
Share:

AP PHOTO/DITA ALANGKARA
Polisi memeriksa kerusakan setelah terjadi ledakan di Hotel JW Marriott di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (17/7).

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com — PT Asuransi Bintang Tbk membayar uang pertanggungan asuransi ke Hotel JW Marriott dan Plaza Mutiara. Kedua gedung yang berada di Mega Kuningan itu rusak akibat serangan bom teroris pada akhir Agustus 2009.

Total uang klaim yang dibayarkan Asuransi Bintang kepada pemilik kedua gedung sebesar 910.000 dollar AS. Perinciannya, uang pertanggungan untuk JW Marriott 620.000 dollar AS dan untuk Plaza Mutiara sebesar 290.000 dollar AS.

"Yang kami bayarkan baru pertanggungan atas kerugian material. Untuk kerugian bisnis masih dalam proses," kata Direktur Utama Asuransi Bintang Zafar Dinesh Idham, Senin (9/11).

Asuransi Bintang mengganti kerugian Hotel JW Marriott karena serangan bom oleh kelompok teroris termasuk dalam pertanggungan mereka. Perusahaan menyediakan nilai maksimal uang pertanggungan untuk produk asuransi teror dan sabotase sebesar 5 juta dollar AS.

Zafar menuturkan, klaim kerugian JW Marriott dan Plaza Mutiara bukanlah klaim terbesar yang pernah mereka bayarkan sepanjang 2009 ini. "Klaim terbesar yang kami bayarkan pada tahun ini adalah klaim dari pabrik minyak nilam di Medan, Sumatera Utara. Nilainya mencapai Rp 71 miliar," ujarnya.

Zafar menambahkan, sejak serangkaian bom meledak di Indonesia, permintaan produk asuransi teror mengalami peningkatan. "Saya lupa persisnya. Yang jelas, selain melayani permintaan dari nasabah baru, nasabah lama kami juga meminta perluasan pertanggungan," kata dia.

Meski mengalami peningkatan permintaan, kontribusi premi dari asuransi teror dan sabotase tidak berpengaruh besar bagi pendapatan premi perusahaan tahun ini.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pendapatan premi Asuransi Bintang hingga September 2009 melorot dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dari Rp 57,33 miliar menjadi Rp 42,43 miliar. "Ini karena ada line bisnis kami yang berkurang, misalnya bisnis marine cargo," tandasnya. (Fransiska Firlana/Kontan)

Sumber :
KONTAN