JAKARTA, KOMPAS.com — Sebanyak 10 perusahaan finansial menjadi calon investor untuk membiayai pembangunan hanggar pesawat khusus Airbus A319 dan A320 milik PT Garuda Maintenance Facility (GMF) AeroAsia. Investasi hanggar dengan kapasitas sebanyak 12 pesawat tersebut menyerap dana 50 juta dollar AS.
Direktur Utama GMF Richard Budihadiyanto mengatakan, sepuluh investor yang terdiri dari lembaga keuangan dari dalam dan luar negeri tersebut saat ini sedang diseleksi. Nantinya GMF hanya membutuhkan satu lembaga untuk membiayainya.
"Ini bukan tender, tetapi seperti beauty contest saja. Yang menawarkan investasi menarik, maka itu yang akan kami pilih. Desember (2009) nanti seleksi akan selesai dan proyek langsung dijalankan," kata Richard di sela-sela peresmian pesawat Airbus 330-200 dan Boeing 737-800 NG milik Garuda di bengkel GMF, Cengkareng, Senin (9/11).
Siapa-siapa sepuluh investor yang telah mendaftar beauty contest tersebut, Richard enggan mengungkapkannya. Meski demikian, seluruh investor terdiri dari tujuh lembaga pembayaran luar negeri antara lain dari Kanada, Singapura, dan Eropa. Adapun tiga investor dalam negeri adalah bank BUMN.
Ia menjelaskan, GMF membutuhkan waktu selama 20 bulan untuk membangun hanggar Airbus tersebut. Bila pembangunan dimulai awal tahun 2010, maka bengkel tersebut bisa dioperasikan pada akhir 2011. "Butuh 12 bulan untuk membangun hanggar wing (sayap) I dan delapan bulan untuk wing II," ujarnya.
GMF bulan lalu telah mendapatkan sertifikat kelayakan dan keselamatan untuk memperbaiki pesawat Airbus tipe A319 dan A320 dari Otoritas Penerbangan Amerika Serikat atau Federal Aviation Administration (FAA). Sertifikat tersebut dijadikan modal bagi GMF untuk membangun fasilitas MRO (maintenance, repair, and overhaul) dan A-Check hingga B-Check. "Ke depan, pesawat jenis Airbus akan mewarnai banyak maskapai di Indonesia. Ini menjadi kesempatan bagi GMF untuk mengembangkan pasar," tandasnya.
Disebutkan, bila proyek ini jadi, maka jasa perbaikan pesawat bakal membutuhkan banyak tenaga kerja. Menurutnya, GMF hingga 2014 membutuhkan sebanyak 5.000 teknisi pesawat. Ini akan menjadi peluang bagi masyarakat untuk menjadi tenaga kerja sebagai teknisi.
Richard merasa yakin bahwa maskapai-maskapai penerbangan asal Indonesia yang memperbaiki pesawatnya di luar negeri lambat laun akan beralih ke GMF. "Bila mutu kita sama, tetapi ongkos lebih murah karena kita di dalam negeri, apa ada alasan lain untuk merawat di luar negeri?" ujarnya.
Saat ini, GMF mampu memperbaiki sebanyak 14 pesawat sekaligus, baik pesawat berbadan lebar, maupun pesawat berbadan sempit karena hanggar GMF saat ini memiliki kapasitas 14 line. Sejumlah maskapai asal Amerika Serikat dan Eropa juga memperbaiki pesawatnya di GMF. Dengan rencana tersebut, maka GMF pada 2011 segera memiliki kapasitas 26 line.
BNI optimistis
Sementara itu, Direktur Utama BNI 46 Gatot S Soewondo di acara yang sama menyatakan optimismenya untuk memenangi beauty contest pembangunan hanggar Airbus GMF ini. Menurutnya, prospek bisnis bengkel pesawat di Indonesia sangat bagus sehingga masa depannya terlihat cerah.
"Ya kita ikut dalam tender ini. Insya Allah kami bisa menjadi pemenangnya karena prospeknya sangat bagus. Kerja sama dengan proyek ini akan menguntungkan," kata Gatot kepada PersdaNetwork.
Meski demikian, Gatot tidak mau menjabarkan perhitungan keuntungan yang bakal diperoleh, dan hal-hal yang akan ditawarkan ke GMF. "Ya nanti kita lihat saja setelah ketahuan siapa pemenangnya," ujarnya.
