SINGAPURA, KOMPAS.com — Fungsi APEC yang tadinya menjadi jembatan pemersatu perekonomian di kawasan Asia Pasifik kini semakin meluas menjadi wadah untuk menyelesaikan berbagai permasalahan, termasuk pandemi penyakit. APEC tidak hanya mendorong liberalisasi perdagangan, tetapi sudah menuntut upaya fasilitasi perdagangan dunia yang terbuka.
"APEC juga menjadi wadah yang penting untuk membahas berbagai masalah di luar ekonomi seperti pandemi penyakit dan isu keamanan di kawasan," ujar Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong saat berbicara dalam sambutan mengawali Pertemuan Tingkat Menteri APEC (AMM) di Singapura, Selasa (10/11) malam.
Pengembangan fungsi APEC tersebut merupakan salah satu penyebab bertambahnya keanggotaan APEC dari 12 negara menjadi 21 negara. Secara demografi, total penduduk dari 21 anggota APEC tersebut setara 40,5 persen penduduk dunia.
APEC juga berkontribusi 54,2 persen terhadap total produk domestik bruto dunia. Hal itu dimungkinkan karena 43,7 persen nilai perdagangan dunia berasal dari negara-negara anggota APEC.
Negara anggota APEC saat ini adalah Australia, Brunei Darussalam, Kanada, Cile, China, Hongkong, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, dan Papua Niugini. Selain itu juga Peru, Filipina, Rusia, Singapura, Taiwan, Thailand, Amerika Serikat, dan Vietnam.
Menurut Loong, interaksi reguler negara-negara anggota APEC dengan berbagai latar belakang politik, ekonomi, dan budaya telah menyebabkan kawasan Asia Pasifik sebagai sebuah komunitas yang layak disebut Trans-Pasifik. Oleh karena itu, pertemuan tingkat tinggi APEC ke-20 di Singapura menjadi bagian dari langkah panjang yang telah dilakukan sejak APEC didirikan.
Ketika perekonomian dunia mulai berkembang setelah didera krisis keuangan global, dan ketika situasi mulai stabil, perkiraan ekonomi ke depan masih tidak jelas. "Masih banyak yang mesti dilakukan agar pemulihan ekonomi global itu berkelanjutan, sehingga membutuhkan persiapan pascakrisis," ungkapnya.