JAKARTA, KOMPAS.com — Setelah melalui proses panjang, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menyatakan akan menjadi pemilik semua saham perusahaan pertambangan Australia, Herald Resources Ltd. Akuisisi saham Herald dilakukan melalui proses penawaran tender atas 1,61 persen saham Herald dengan harga 0,93 dollar Australia per saham.
Senior Vice President Bumi Resource Dileep Srivastava, Kamis (12/11) di Jakarta, mengatakan, akuisisi saham Herald akan dilakukan Calipso Investment Pte Ltd, anak usaha BUMI yang didirikan untuk proses akusisi Herald. ”Dalam enam minggu ke depan, kami harapkan kewajiban mengakuisisi 100 persen saham Herald selesai,” ujarnya.
Saat ini, Calipso memiliki 205 juta lebih saham atau 98,39 persen dari semua saham Herald. Saham itu diperoleh melalui proses akuisisi dan penawaran tender. Terakhir, Calipso melakukan penawaran tender 20 Oktober 2009 dengan harga 0,93 dollar Australia per saham.
Adapun saham Herald yang tercatat di Australian Stock Exchange untuk sementara tidak diperdagangkan (suspensi), terkait proses penawaran tender oleh Calipso. Sebelum disuspensi, saham Herald diperdagangkan 0,88 dollar AS per saham.
Herald adalah perusahaan pertambangan yang menguasai 80 persen saham di proyek Anjing Hitam, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Sebanyak 20 persen saham lainnya dimiliki PT Aneka Tambang Tbk.
Sebelumnya, Aneka Tambang ingin memiliki saham Herald. Namun, persaingan memperebutkan saham mayoritas Herald akhirnya dimenangi BUMI.
Saham Herald menjadi incaran karena proyek Dairi diperkirakan memiliki kandungan seng dan timbal terbesar di dunia. Namun, meski proyek Dairi telah berjalan beberapa tahun lalu, proses eksploitasi masih terkatung-katung karena belum mendapat izin Departemen Kehutanan. ”Proses perizinan kami harapkan segera selesai dan proyek dapat dimulai,” kata Dileep.
Untuk melaksanakan proyek Dairi, BUMI menyediakan 211 juta dollar AS atau sekitar Rp 2 triliun, yang akan diperoleh dari penjualan obligasi BUMI sebesar 300 juta dollar AS. Obligasi ini akan diterbitkan pada Jumat (13/11).
Rencana penerbitan obligasi ini sempat menekan harga saham BUMI karena menawarkan tingkat bunga yang cukup tinggi, 12 persen per tahun. Analis dan investor mengkhawatirkan hal itu akan menambah beban utang dan beban bunga BUMI karena perseroan baru memperoleh pinjaman dari China Investment Corporation 1,9 miliar dollar AS dengan tingkat bunga 12 persen per tahun, ditambah 7 persen saat pelunasan. (REI)


