
JAKARTA, KOMPAS.com — Bank Indonesia yakin penguatan rupiah masih akan terus berlanjut. Selain karena dukungan fundamental ekonomi yang semakin tangguh, penguatan rupiah juga terdorong kian jelasnya arah pemulihan ekonomi global, terutama di Amerika Serikat.
"Dari awal saya sudah bilang bahwa rupiah arahnya menguat. Ini memang ironi, kalau ekonomi AS sudah relatif aman, duit investor berani keluar dari sana masuk kesini, dan sebaliknya," kata Pejabat Sementara Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution seusai shalat Jumat di Masjid Baitul Ihsan Bank Indonesia, Jumat (13/11).
Duit-duit investor di Negeri Uwak Sam tersebut selalu mencari tempat untuk berbiak. Negara-negara emerging market, seperti Indonesia, kerap menjadi tempat favorit para investor. Maklum, tawaran return alias yield-nya jauh lebih tinggi dibandingkan di negara lain. "Memang terjadi capital inflow, buktinya cadangan devisa kita naik," ujarnya.
Per akhir Oktober lalu cadangan devisa Indonesia menembus angka tertinggi sepanjang sejarah yakni sebesar 64,5 miliar dollar AS. "Sebagian besar penguatan rupiah memang karena capital inflow," ungkap Darmin. Ia optimistis rupiah masih akan terus menguat sejalan dengan tren pelemahan dollar di seluruh dunia. (Kontan/Ruisa Khoiriyah)