JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa memandang wajar sikap Menneg BUMN yang tetap mendorong PT Aneka Tambang untuk tetap bergabung dalam konsorsium dengan Pemprov Nusa Tenggara Barat (NTB) terkait divestasi 14 persen saham PT Newmont Nusa Tenggara (NNT).
"Sebagai Menneg BUMN, wajar-wajar saja kalau ingin biar Antam ikut berapa pun sahamnya," ujar Hatta, saat Temu Wartawan, di kantornya, Jakarta, Jumat (13/11). Hatta menegaskan, untuk pembelian saham NNT ini, pemerintah telah menunjuk Pemprov NTB sebagai pemimpin (lead) konsorsium. Karena itu, Pemprov NTB yang akan bertindak sebagai koordinator untuk pembelian saham ini.
Deputi Menko Perekonomian Bidang ESDM dan Kehutanan Wempy S Tjetjep mengakui, hingga kini masih ada masalah bisnis yang mengganjal dalam proses divestasi NNT ini. Menurutnya, Antam telah memutuskan untuk tidak berpartisipasi dalam konsorsium Pemprov NTB untuk pembelian divestasi saham NNT. Namun sebaliknya, Pemprov NTB justru menginginkan adanya konsorsium.
"Yang jelas Antam menginginkan stand alone (sendiri-sendiri, tidak mau bergabung). Alasannya saya tidak tahu. Makanya ditunda dulu karena masih ada masalah-masalah kecil," tuturnya, ketika ditemui di tempat yang sama.
Kendati demikian, proses finalisasi divestasi akan tetap dilaksanakan pada 23 November 2009 walaupun Antam tidak masuk dalam konsorsium tersebut.
Sebelumnya, Antam dikabarkan mundur dari konsorsium divestasi 14 persen saham Newmont karena kepemilikan saham yang ditawarkan di bawah dari 50 persen atau tidak sesuai dengan target perseroan.


