
SINGAPURA, KOMPAS.com - Integrasi ekonomi kawasan, kelanjutan Putaran Doha di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), isu perubahan iklim, dan terorisme, menurut keterangan pers Sekretariat APEC, merupakan isu yang diagendakan untuk dibahas para pemimpin negara- negara anggota APEC, kecuali Amerika Serikat. Presiden Amerika Serikat Barack Obama baru tiba di Singapura pada Sabtu petang dan bergabung dengan para pemimpin lain pada jamuan makan malam. Retreat Pertemuan retreat pada hari pertama kemarin berlangsung selama dua jam, kemudian dilanjutkan dengan dialog antara para pemimpin APEC dan Dewan Penasihat Bisnis APEC (APEC Business Advisory Council). Pada Sabtu petang, para pemimpin APEC dijamu makan malam dan konser musik di gedung pertunjukan Esplanade. Rangkaian kegiatan APEC ini dihadiri para kepala negara/pemerintahan 21 negara anggota APEC, antara lain Presiden Vietnam Nguyen Minh Triet, Perdana Menteri (PM) Thailand Abhisit Vejjajiva, Presiden Korea Selatan Lee Myung-bak, PM Australia Kevin Rudd, Presiden Filipina Gloria Macapagal-Arroyo, Presiden Peru Alan Garcia, Presiden Cile Michelle Bachelet, Presiden China Hu Jintao, PM Kanada Stephen Harper, PM Jepang Yukio Hatoyama, Presiden Meksiko Felipe Calderon, Presiden Rusia Dmitry Medvedev, dan Presiden Amerika Serikat Barack Obama. Sebelum mengikuti rangkaian kegiatan pertemuan APEC, PM John Key menyatakan bahwa Asia adalah masa depan ekonomi dunia sehingga Selandia Baru merasa perlu lebih mendekatkan dan menyatukan diri dengan Asia. Presiden Yudhoyono juga mengucapkan terima kasih atas dukungan Selandia Baru bagi penyelenggaraan Forum Demokrasi di Bali, Desember mendatang, dan juga kerja sama kedua negara dalam dialog antarpemeluk agama. Kedua pemimpin juga membahas persiapan konferensi perubahan iklim di Kopenhagen, Denmark. Mereka menyepakati perlunya dilakukan langkah terobosan agar dicapai hasil yang diharapkan dalam konferensi tersebut. Presiden Yudhoyono dan PM John Key juga membahas kemungkinan kerja sama energi terbarukan di antara kedua negara. Di bidang perekonomian, volume perdagangan Indonesia-Selandia Baru tumbuh sekitar 30 persen dalam periode 2006- 2008.