
YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Departemen Pertanian menganggarkan Rp 12,5 miliar untuk mendidik 1.000 calon tenaga kerja di bidang perkebunan. Selain membantu mengentaskan pengangguran, program ini juga bertujuan meningkatkan sumber daya manusia di bidang perkebunan guna mendukung program revitalisasi perkebunan kelapa sawit, karet serta akselerasi produksi tebu.
Menteri Pertanian RI Suswono mengatakan, kelapa sawit, karet serta tebu merupakan produk perkebunan unggulan di Indonesia. Untuk kelapa sawit, misalnya, saat ini Indonesia adalah produsen terbesar di dunia. Selain sumbangan devisa yang cukup besar, perkebunan serta agrobisnis kelapa sa wit juga menyerap banyak tenaga kerja.
"Untuk itu Departemen Pertanian bekerjasama dengan Departemen Pendidikan dan Departemen Tenaga Kerja fokus mengembangkan sumber daya manusia di bidang ini," katanya saat menghadiri penyerahan program pelatihan dan p ermagangan (retooling) di bidang agribisnis kelapa sawit kepada perusahaan perkebunan kelapa sawit, Sabtu (15/11) di Lembaga Pendidikan Perkebunan (LPP) Yogyakarta.
Menurut dia, selama ini lulusan perguruan tinggi dinilai belum memenuhi kompetensi yang di syaratkan perusahaan kelapa sawit. Namun setelah mengikuti program pelatihan dan permagangan kelapa sawit, lulusan perguruan tinggi tersebut langsung dapat diserap perusahaan kelapa sawit.
Melihat hasil tersebut, lanjut Suswono, program serupa akan diperluas ke perkebunan karet dan tebu sehingga mendukung program revitalisasi perkebunan. Khusus untuk tebu, program tersebut bertujuan untuk mendukung tercapainya swasembada gula konsumsi. Kami sudah menganggarkan Rp 12,5 miliar untuk 1.000 lulusan sarjana dan diploma empat. "Kami berharap dua departemen lainnya juga mengalokasikan anggaran sehingga jumlah sarjana yang dilatih semakin banyak," tambahnya.