
JAKARTA, KOMPAS.com — Proyek-proyek pembangkit listrik swasta (Independent Power Producer/IPP) generasi II atau periode 2005-2009 menemui kendala. Direktur Utama PT PLN Fahmi Mochtar mengatakan, dari total 126 IPP, hanya 18 IPP yang terbilang sukses membangun pembangkit listrik.
"Rasio kesuksesan IPP generasi II hanya sekitar 14,3 persen," ujarnya, saat Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VII DPR RI di Gedung DPR, Jakarta, Senin (16/11). Menurutnya, kecilnya tingkat kesuksesan pada periode tersebut karena tidak ada jaminan dari pemerintah atas proyek ini.
Risiko force majeure (bencana alam) juga harus ditanggung oleh pengembang serta masih sulitnya pengucuran kredit dari perbankan untuk proyek ini (tidak bankable). Di samping itu, sebagian besar IPP di masa konstruksi dan masa pendanaan juga mengalami kendala pendanaan. Hal ini diakibatkan terjadinya kenaikan harga-harga material konstruksi di pasar domestik ataupun internasional dan kenaikan harga minyak.
"Masalah ini sudah disampaikan oleh PLN ke pemerintah dalam hal ini Menko Perekonomian, Menteri ESDM, dan Menteri BUMN. Untuk penyelesaiannya sedang dikoordinasikan," tuturnya.
Jika dibandingkan dengan IPP generasi pertama pada periode 1992-1998, rasio kesuksesannya berada di atas 50 persen atau mencapai 59,2 persen. Tingkat kesuksesan pada IPP generasi pertama disebabkan karena pemerintah masih memberikan jaminan, risiko force majeure (bencana alam) ditanggung oleh PLN dan lebih bankable.
Adapun untuk perkembangan program IPP untuk 10.000 MW tahap pertama, IPP yang sudah beroperasi sebanyak 19 IPP (4.417 MW), tahapan konstruksi 17 IPP (2.272 MW), dan tahapan pendanaan 22 IPP (3.425 MW).