JAKARTA, KOMPAS.com - PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Persero mengusulkan perubahan struktur tarif dasar listrik (TDL) menjadi 21 kelompok tarif dari struktur tarif saat ini sebanyak 37 kelompok tarif.
Direktur Utama PLN Fahmi Mochtar mengatakan dengan disederhanakan struktur tarif ini maka klasifikasi pelanggan akan lebih kecil sehingga akan lebih memudahkan pengelolaannya.
"Dengan adanya penyederhanaan ini diharapkan struktur tarif lebih sederhana. Ini supaya lebih mudah mengelolanya ,"ujar Fahmi dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VII DPR RI, Jakarta, Senin ( 16/11 ).
Fahmi menjelaskan, PLN mengusulkan struktur tarif pelanggan sosial (S) diciutkan dari sebelumnya tujuh menjadi empat kelompok, rumah tangga (R) dari enam menjadi empat, bisnis (B) dari enam jadi tiga, industri (I) dari delapan jadi empat, publik (P) dari tujuh jadi empat.
Sebagai contoh, golongan tarif rumah tangga dikelompokkan dalam empat kelompok. Yakni, RS- 1/450 VA adalah kelompok rumah tangga yang menggunakan daya sampai dengan 45VA, RS- 2/900 VA dengan daya sampai dengan 900 VA, RM-1/1.300 sampai dengan 5.500 VA, dan RM-2 dengan daya lebih dari 6.600 VA.
Untuk kelompok RS- 1/450 VA dengan daya sampai 450 VA, jelas Fahmi, merupakan gabungan kelompok R1, B1, I1, dan P1 yang ada dalam TDL yang berlaku saat ini ( 2009 ).
Kemudian rumah tangga RS- 2/900 VA berasal dari R1, B1, I1, dan P1 dengan daya 900 VA. Juga RM- 1/1300 sampai daya 5.500 VA dari R 1 1300-2.200 VA dan R 2 2.200-6.600 VA.
Untuk RM-2 6.600 VA ke atas berasal dari R 2 2.200-6.600 VA dan R3 6.600 VA ke atas.
Adapun untuk struktur tarif yang diusulkan masih sesuai dengan yang lama, di mana estimasi rasio harga jual rata-rata terhadap biaya pokok penyediaan tahun 2009 masih di bawah 100 persen.
"Kecuali tarif multiguna yang mencapai 133 persen, 36 kelompok lainnya masih di bawah 100 persen," tuturnya.
Fahmi mencontohkan, rasio pelanggan R1 dengan daya sampai 450 VA hanya 33 persen, R 1/900 VA sebesar 49 persen, B2 2.200 VA- 200.000 VA sebesar 82 persen, dan I 2 14.000 VA- 200.000 VA sebesar 66 persen.
