KOMPAS
Selasa, 9 Februari 2010 Selamat Datang  |     |  
China Keluhkan Sikap Perdagangan AS
Selasa, 17 November 2009 | 06:07 WIB
AP photo/Vincent Yu
Polisi China berjaga-jaga di luar sebuah kantor pemerintah di Zhang Mu Tou, Provinsi Guangdong, Jumat (17/10). Ratusan pekerja pabrik pembuat produk mainan anak-anak berkumpul di luar gedung itu karena gaji mereka tak kunjung dibayarkan perusahaan bernama Smart Union Group (Holdings) Ltd, yang sudah ditutup. Krisis ekonomi global membuat pesanan produk mainan asal China berkurang.
TERKAIT:

BEIJING, KOMPAS.com -  Pemerintah China, Senin (16/12), menuduh Washington meningkatkan proteksionisme dan mengatakan permintaan AS untuk menaikkan kurs yuan tidak adil. Pada Senin sore, Obama sudah tiba di Beijing.

Salah satu misi kunjungan Obama ke China adalah meyakinkan China bahwa Beijing adalah mitra AS, bukan lawan. Dia juga berharap dapat membujuk China agar mau merevaluasi yuan yang telah dipatok terhadap dollar AS sejak Juli 2008.

Masalah kurs yuan sudah menjadi persoalan lama antara AS dan China. AS menuduh yuan terlalu murah sehingga barang- barang ekspor China dihargai murah dan membuat pesaingnya tidak kompetitif karena harganya menjadi lebih mahal dibandingkan dengan barang China. AS juga menuduh defisit perdagangan dengan China semakin membengkak karena mengalirnya barang-barang China ke AS.

Demi perekonomian

Menteri perdagangan China mengatakan kembali bahwa pemerintah akan tetap membuat kurs yuan stabil dan menyatakan bahwa tekanan AS terhadap yuan adalah tindakan yang tidak fair.

”Penting untuk menciptakan kestabilan dan lingkungan yang dapat diprediksikan, termasuk kestabilan ekonomi dan kebijakan mata uang asing untuk membantu pertumbuhan ekonomi global dan pertumbuhan ekspor China,” ujar Juru Bicara Menteri Perdagangan Yao Jian. Yao menambahkan bahwa AS telah membiarkan kurs dollar AS terus melemah untuk meningkatkan daya saingnya.

Beberapa bulan lalu, Washington membuat berang China dengan memberlakukan tarif tambahan atas produk ban dari China dan memberlakukan pajak lebih tinggi bagi beberapa produk baja. Langkah ini disebut Beijing sebagai proteksionisme.

Yao juga mengeluhkan batasan-batasan AS dalam kaitan ekspor barang berteknologi tinggi ke China. Juru bicara perdagangan China ini juga mengatakan, tingginya defisit perdagangan antara AS dan China adalah hasil dari kesalahan kebijakan AS sendiri.

”AS seharusnya mengkaji kembali kebijakan kontrol ekspornya, bukan menciptakan berbagai hambatan perdagangan untuk memproteksi industri domestiknya,” ujar Yao. ”AS dan negara Barat lainnya aktif sebagai pendukung perdagangan bebas, tetapi sekarang kita mendapatkan mereka melakukan proteksi,” katanya lagi. (AFP/joe)

 

Penulis: TOF   |   Editor: tof   |   Sumber : Kompas Cetak Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.