
BEIJING, KOMPAS.com - Salah satu misi kunjungan Obama ke China adalah meyakinkan China bahwa Beijing adalah mitra AS, bukan lawan. Dia juga berharap dapat membujuk China agar mau merevaluasi yuan yang telah dipatok terhadap dollar AS sejak Juli 2008. Masalah kurs yuan sudah menjadi persoalan lama antara AS dan China. AS menuduh yuan terlalu murah sehingga barang- barang ekspor China dihargai murah dan membuat pesaingnya tidak kompetitif karena harganya menjadi lebih mahal dibandingkan dengan barang China. AS juga menuduh defisit perdagangan dengan China semakin membengkak karena mengalirnya barang-barang China ke AS. Menteri perdagangan China mengatakan kembali bahwa pemerintah akan tetap membuat kurs yuan stabil dan menyatakan bahwa tekanan AS terhadap yuan adalah tindakan yang tidak fair. ”Penting untuk menciptakan kestabilan dan lingkungan yang dapat diprediksikan, termasuk kestabilan ekonomi dan kebijakan mata uang asing untuk membantu pertumbuhan ekonomi global dan pertumbuhan ekspor China,” ujar Juru Bicara Menteri Perdagangan Yao Jian. Yao menambahkan bahwa AS telah membiarkan kurs dollar AS terus melemah untuk meningkatkan daya saingnya. Beberapa bulan lalu, Washington membuat berang China dengan memberlakukan tarif tambahan atas produk ban dari China dan memberlakukan pajak lebih tinggi bagi beberapa produk baja. Langkah ini disebut Beijing sebagai proteksionisme. Yao juga mengeluhkan batasan-batasan AS dalam kaitan ekspor barang berteknologi tinggi ke China. Juru bicara perdagangan China ini juga mengatakan, tingginya defisit perdagangan antara AS dan China adalah hasil dari kesalahan kebijakan AS sendiri. ”AS seharusnya mengkaji kembali kebijakan kontrol ekspornya, bukan menciptakan berbagai hambatan perdagangan untuk memproteksi industri domestiknya,” ujar Yao. ”AS dan negara Barat lainnya aktif sebagai pendukung perdagangan bebas, tetapi sekarang kita mendapatkan mereka melakukan proteksi,” katanya lagi.