
JAKARTA, KOMPAS.com — Rencana divestasi 14 persen saham PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) masih belum menemui titik temu. Rapat koordinasi yang digelar empat menteri, yakni Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Darwin Zahedi Saleh, Menteri Negara BUMN Mustafa Abubakar, serta Menko Perekonomian Hatta Rajasa, berakhir buntu.
"Menko (Menko Perekonomian Hatta Rajasa) minta ada pertemuan lebih lanjut sebelum tanggal 23 November 2009. Jadi, besok Rabu kami ketemu lagi atau paling lambat Jumat," ujar Menteri Negara BUMN Mustafa seusai rakor di Gedung Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta, Senin (16/11) malam.
Menurutnya, dalam pertemuan tanggal 18 November, pemerintah akan memfasilitasi antara Pemda Nusa Tenggara Barat (NTB) dan PT Aneka Tambang (Antam) guna negosiasi divestasi Newmont. Ini dilakukan karena proses divestasi Newmont berlangsung alot dan terkesan berlarut-larut.
"Kami harapkan sebelum 23 (November) ini ada pertemuan lanjutan antara Pemda dan Antam yang difasilitasi masing-masing Kementrian. Kami harapkan ada ruang bagi masing-masing pihak dan ada titik temu," katanya.
Untuk pembelian saham NNT ini, pemerintah telah menunjuk Pemda NTB sebagai pemimpin (lead) konsorsium. Namun, hingga kini masih ada masalah bisnis yang mengganjal dalam proses divestasi NNT ini. Sebelumnya, Antam telah memutuskan mundur dari konsorsium Pemda NTB untuk pembelian divestasi saham NNT karena saham yang ditawarkan di bawah dari 50 persen atau tidak sesuai dengan target perseroan.
Kendati demikian, Mustafa menegaskan, proses finalisasi divestasi akan tetap dilaksanakan pada 23 November 2009 walaupun Antam tidak masuk dalam konsorsium tersebut. Kendati demikian, pemerintah pusat masih berharap agar Antam tetap ikut dalam divestasi saham NNT tersebut.