JAKARTA, KOMPAS.com — Persetujuan Perdagangan Bebas atau Free Trade Agreement ASEAN-China menjadi malapetaka bagi industri nasional.
Berbagai polemik seperti disorganisasi struktur, tingginya kandungan impor, lemahnya penguasaan teknologi, rendahnya kualitas sumber daya manusia, dan tingginya suku bunga perbankan menyebabkan industri manufaktur mengalami kemunduran.
Hal itulah yang akan diangkat dalam seminar nasional yang diselenggarakan Universitas Paramadina bekerja sama dengan JakartaPress di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa (17/11).
Sesuai rencana, seminar menghadirkan pembicara ekonom Faisal Basri, Direktur Kerjasama Bilateral Departemen Perdagangan Harmen Sembiring, dan Dirjen Industri Logam, Mesin Tekstil, dan Aneka (ILMTA) Departemen Perindustrian Ansari Bukhari.
