Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 23:21 WIB
Akhir Tahun, Rupiah Diramal Capai Rp 9.200
Wahyu Satriani Ari Wulan | acandra | Rabu, 18 November 2009 | 14:45 WIB
|
Share:

KOMPAS/RIZA FATHONI
Anggota staf di penukaran valuta asing di kawasan Kwitang, Jakarta, melayani transaksi mata uang asing, Kamis (12/11). Pada perdagangan kemarin, rupiah ditutup melemah ke level Rp 9.430 per dollar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 9.400 per dollar AS.

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada akhir tahun ini diperkirakan akan stabil mencapai Rp 9.200. Adapun pada akhir tahun 2010, rupiah diperkirakan akan berada pada level Rp 9.100.

Demikian disampaikan ekonom senior Standard Chartered Bank, Fauzi Ikhsan, saat seminar Asia's Emerging Powerhouse' di Jakarta, Rabu, (18/11).

Menurut Fauzi, hal tersebut ditopang oleh pemulihan ekonomi global yang akan berdampak pada naiknya cadangan devisa negara Indonesia. "Dengan meningkatnya cadangan devisa, otomatis rupiah menguat," ujarnya.

Adapun posisi cadangan devisa negara yang diproyeksikan Fauzi pada akhir tahun ini mencapai 66 miliar dollar AS atau naik dibandingkan posisi saat ini yang mencapai 64,5 miliar dollar AS. Untuk akhir tahun 2010, diperkirakan cadangan devisa akan mencapai 73 miliar dollar AS.

"Faktor penyebabnya adalah neraca perdagangan yang masih surplus walau akan sedikit turun dari 30 miliar dollar AS pada tahun ini menjadi 29 miliar dollar AS," katanya.

Fauzi menjelaskan, pemulihan ekonomi akan memberi dampak positif  terhadap Indonesia berupa membaiknya pasar saham, melemahnya nilai tukar dollar AS, dan masih rendahnya suku bunga acuan AS.

"Hal ini juga akan berdampak pada nilai tukar mata uang Asia, termasuk rupiah," ujarnya.

Kendati demikian, Fauzi mengungkapkan, rupiah akan sedikit berfluktuasi pada kuartal II dan kuartal III tahun 2010 ke level Rp 9.600 hingga Rp 9.500. Ini disebabkan adanya ketidakpastian akan pemulihan ekonomi AS.

"Kalau (pemulihan) tidak seperti yang diharapkan, akan berdampak pada global, termasuk pasar saham dan nilai tukar mata uang Asia," tuturnya.