KOMPAS.com — Meski sempat anjlok pada awal tahun 2009, penjualan kendaraan tampaknya mulai membaik. Ekspektasi konsumen terhadap luruhnya suku bunga kredit mendongkrak kembali minat mereka membeli kendaraan. Jika suku bunga kredit turun, penjualan kendaraan seharusnya masih bisa ngebut.
Penjualan produk otomotif di Indonesia memang fantastis. Jika menengok ke belakang, motor yang laris terjual tahun 2008 di Indonesia mampu tembus 6,2 juta unit (2008) atau naik hingga 32,6 persen dari tahun sebelumnya.
Kinerja penjualan ini terbilang sangat baik jika dibandingkan yang terjadi di negara tetangga, seperti Malaysia dan Thailand.
Di Malaysia, penjualan motor pada periode yang sama mencapai 529.000 unit atau naik sebesar 17,8 persen, sedangkan di Thailand penjualannya menembus 1,7 juta unit atau tumbuh 12,5 persen dari tahun sebelumnya. Di Thailand sendiri, penjualan motor pada tahun 2008 bukanlah yang terbaik, mengingat pada tahun 2005 angka penjualannya mampu mencapai 2 juta unit.
Setali tiga uang, penjualan roda empat pun tidak kalah seru. Jumlah mobil yang dibeli konsumen pada tahun 2008 mencapai 607.000 unit (tumbuh 39,9 persen).
Angka penjualan mobil di Indonesia bersaing ketat dengan Thailand dan Malaysia. Pabrikan mobil di Malaysia berhasil membukukan penjualan hingga 548.000 unit (naik 12,5 persen) dan di Thailand sebesar 616.000 unit (turun 2,5 persen).
Melihat fakta tersebut, tidaklah berlebihan jika ketika itu disebutkan bahwa potensi pasar otomotif Indonesia masih bertenaga.
Namun, terjangan krisis global mengacaukan impian makin meroketnya pasar kendaraan nasional. Hingga September 2009, tercatat jumlah sepeda motor yang terjual ”hanya” mencapai 4,1 juta unit atau turun 13,8 persen dan total mobil yang terjual menembus 337.000 unit, tergerus hingga 27,8 persen.
Menjelang pengujung 2009 ini, bisnis otomotif masih terus menggeliat. Meskipun pertumbuhan tahunan penjualan kedua jenis kendaraan ini masih berkontraksi, kinerja bulanannya dianggap memberikan indikasi yang positif.
Misalnya, pertumbuhan bulanan penjualan ”si kuda besi” yang naik dari minus 18,3 persen pada Desember 2008 menjadi 14,9 persen pada Agustus 2009. Pertumbuhan bulanan penjualan mobil, yang naik dari minus 14 persen, menjadi 14,8 persen pada periode yang sama.
”Ada gula, ada semut” menjadi peribahasa yang cocok menggambarkan masih manisnya peluang pasar kendaraan di Indonesia.
Keyakinan para pabrikan akan kembali meroketnya animo beli konsumen memicu mereka bertahan memperebutkan kue di pasar otomotif nasional.
Salah satu upayanya adalah kembali menggenjot produksi guna memenuhi permintaan pasar, yang tergambar pada indikator indeks produksi industri (IPI).
IPI merupakan indikator yang mengukur perubahan tingkat output real produksi suatu industri. IPI kendaraan bermotor di Indonesia memang masih belum sepenuhnya pulih pascakrisis. Pertumbuhan tahunan IPI kendaraan bermotor yang sempat mencapai 11,3 persen pada Desember 2008 mengalami kontraksi hingga minus 13,9 persen pada Juli 2009.
Meski demikian, pertumbuhan bulanan menunjukkan perbaikan yang menggembirakan. IPI kendaraan bermotor tumbuh dari minus 10,1 persen pada Desember 2008, naik menjadi 4,2 persen pada Juli 2009.
Jadi, tidaklah mengherankan bila kita melihat kompetisi antarprodusen kendaraan masih memanas, yang diiringi agresifnya produsen memasok kendaraan dengan model baru, kualitas yang lebih baik, serta harga yang kompetitif.
Usaha produsen mendongkrak produksi tentu bukan tanpa alasan. Pemicunya adalah antisipasi kenaikan permintaan, seiring luruhnya suku bunga acuan. Benarkah animo beli masyarakat akan kendaraan masih tinggi hingga saat ini.
Untuk melihat perubahan rencana konsumsi rumah tangga terhadap barang-barang tahan lama, seperti kendaraan bermotor dan elektronik, Danareksa Research Institute (DRI) mengembangkan indikator yang disebut indeks rencana pembelian.
Indeks tersebut berguna mengukur proporsi rumah tangga yang merencanakan pembelian barang dalam 6 bulan mendatang.
Perubahan proporsi konsumen atas rencana pembelian barang berguna untuk melihat kecenderungan belanja mereka pada bulan-bulan mendatang. Salah satu komponen dalam indeks rencana pembelian antara lain indeks rencana pembelian motor (IRPMT) dan indeks rencana pembelian mobil (IRPMB), yang masing-masing menunjukkan intensitas rencana belanja motor dan mobil pada masa mendatang.
IRPMT dan IRPMB ternyata mampu menjelaskan kondisi minat beli konsumen akan kendaraan saat ini. Gambar 3 menunjukkan pergerakan IRPMT, IRPMB, serta indeks ekspektasi suku bunga.
Indeks ekspektasi suku bunga (IESB) adalah indikator yang mengukur ekspektasi konsumen terhadap perkembangan suku bunga yang akan datang, apakah lebih tinggi, lebih rendah, atau tidak berubah.
Perkembangan suku bunga memengaruhi keputusan konsumen membeli kendaraan, mengingat sebagian besar pembeliannya dibiayai melalui kredit. Ketika konsumen yakin bahwa suku bunga pada masa mendatang akan menurun, semakin besar pula peluang pembelian kendaraan yang mereka lakukan karena biaya pinjaman yang dipercaya semakin murah.
Kondisi ini dapat kita lihat pada kecenderungan pergerakan IESB yang berlawanan dengan pergerakan IRPMT dan IRPMB.
Ketika konsumen yakin suku bunga akan turun (IESB turun), biasanya rencana pembelian kendaraan mereka cenderung menguat (IRPMT dan IRPMB naik).
Pada saat tren IESB menurun atau stabil, tren IRPMT dan IRPMB cenderung terkerek naik seperti yang terjadi pada tahun 2008.
Tahun 2008, ketika suku bunga acuan (BI Rate) meroket dari 8 persen menjadi 9,25 persen, rata-rata suku bunga kredit konsumsi bergerak naik dengan kisaran 15,6 persen hingga 16,2 persen.
Namun, ekspektasi konsumen menunjukkan bahwa tingkat suku bunga masih bergerak wajar dan stabil (IESB stabil), yang selanjutnya mendongkrak rencana pembelian kendaraan ke level yang lebih tinggi (IRPMT dan IRPMB naik).
IRPMB naik lebih tinggi dibandingkan IRPMT pada saat IESB bergerak stabil atau turun. Berbeda dengan tahun 2008, agresifnya peluruhan suku bunga acuan ke level 6,5 persen pada tahun 2009 ternyata belum direspons turunnya suku bunga kredit secara cepat dan signifikan.
Bunga kredit konsumsi malah bergerak naik di rentang 16,5 persen (Januari 2009) hingga 16,6 persen (Agustus 2009). IESB memang sempat turun pada awal tahun 2009, yang mengindikasikan keyakinan konsumen akan turunnya suku bunga, tetapi karena realisasinya belum kunjung terjadi, IESB kembali sedikit meningkat di pertengahan tahun.
Konsumen seakan percaya suku bunga kredit masih akan bertahan di level yang tinggi. Naiknya IESB tentu bukan sinyal positif di tengah proses pemulihan ekonomi pascakrisis. Konsumen lebih cenderung menunda pembelian kendaraan (meski memiliki minat yang besar) hingga turunnya bunga pinjaman benar-benar terealisasi.
Berdasarkan kondisi itu, kita dapat melihat bahwa pergerakan suku bunga kredit yang mengikuti pergerakan suku bunga acuan akan mendorong naiknya rencana beli kendaraan oleh konsumen.
Hal ini disebabkan mereka melihat respons suku bunga kredit konsumsi berada di ”jalur” yang benar sehingga minat beli pun terangkat. Artinya, jika bunga kredit saat ini semakin murah (bukan semakin mahal), maka penjualan kendaraan roda dua dan mobil seharusnya bisa lebih tinggi dari yang dapat dicapai saat ini.
Melihat hal ini, kita berharap suku bunga kredit luruh dalam waktu dekat agar konsumen yang memiliki minat tinggi membeli kendaraan akan semakin cepat mewujudkannya. Ketika ekonomi kembali bergerak kencang, harapan makin kencangnya penjualan otomotif nasional ke level yang lebih tinggi semakin mudah tercapai.
Handri Thiono Economist Danareksa Research Institute


