JAKARTA, KOMPAS.com - Kurs rupiah terhadap dollar AS di pasar spot antarbank Jakarta, Senin (23/11) pagi, naik 16 poin menjadi Rp 9.466-Rp 9.475 per dollar AS dibanding penutupan akhir pekan lalu Rp 9.482-Rp 9.495 per dollar, karena investor mulai kembali membeli rupiah.
Pengamat pasar uang, Edwin Sinaga di Jakarta, Senin mengatakan, faktor yang mendorong rupiah menguat karena pelaku pasar melihat Indonesia masih merupakan pasar potensial yang tumbuh semakin baik, meski masih di bawah China dan India. "Selain itu juga faktor fundamental dan neraca perdagangan yang makin membaik mendorong pelaku kembali membeli rupiah," katanya.
Edwin Sinaga yang juga Dirut Finan Corpindo Nusa mengatakan, permintaan domestik yang kuat pada 2010 nanti, juga akan memicu rupiah kembali membaik. "Kenaikan harga komoditas mendorong neraca berjalan terus makin bergerak naik, yang didukung pula oleh kondisi politik yang stabil," ucapnya.
Karena itu, lanjut dia, rupiah tidak bergerak jauh merosot hingga di atas angka Rp 9.500 per dollar, rupiah masih akan berkisar antara Rp 9.450 sampai Rp 9.475 per dollar. "Tapi koreksi harga pasar saham pada akhir tahun ini diperkirakan akan membayangi pergerak rupiah," ujarnya.
Posisi rupiah yang saat ini di atas Rp 9.400 per dollar, menurutnya, hanya sementara dan pada akhirnya nanti akan kembali menguat hingga di bawah angka Rp 9.400 per dollar. Pasar masih tetap positif terhadap pasar uang domestik, namun adanya kasus Bank Century, masalah cicak dan buaya merupakan salah satu hambatan bagi pelaku asing untuk masuk lebih aktif lagi. "Pelaku asing masih khawatir dengan masalah hukum yang menunjukkan ketidakpastian, karena itu pemerintah harus segera memperbaiki kebijakannya agar pelaku asing tetap bermain di pasar domestik," ucapnya.
Ia mengatakan, rupiah akan kembali menguat, kalau melihat tingginya minat asing untuk membeli rupiah yang didukung oleh membaiknya kinerja keuangan emiten pada sembilan bulan pertama 2009.


