Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 23:50 WIB
Ekonomi Pulih, Dollar Ditinggalkan, Emas Mahal
| Edj | Senin, 23 November 2009 | 13:34 WIB
|
Share:

KOMPAS.com — Tidak terasa, setahun hampir berakhir, kita sudah sampai di penghujung tahun. Dibandingkan dengan setahun lalu pada bulan yang sama, dunia dihadapkan dengan kejatuhan ekonomi. Saat ini, ekonomi sudah mulai menunjukkan pemulihan.

Bursa saham, yang setahun lalu jatuh, sekarang mulai pulih. Dollar yang setahun lalu sangat kuat terhadap mata uang dunia yang lain, akibat aksi mengamankan aset, kini sudah menunjukkan pelemahan, yang menandakan bahwa keyakinan investor untuk berinvestasi mencari yield yang lebih besar mulai tumbuh.

Country

Recent GDP quarterly

(%)

Previous GDP quarterly

(%)

United States of America

3.5

-0.7

United Kingdom

-0.4

-0.6

Euro Zone

0.4

-0.2

German

0.7

0.4

French

0.3

0.3

Japan

1.2

0.7

China

8.9

7.9

Dari data GDP terbaru pada tabel di atas terlihat bahwa ada pertumbuhan GDP untuk kuartal ke-3 di negara-negara ekonomi besar dunia, kecuali Inggris (United Kingdom). Amerika Serikat mengalami pertumbuhan yang luar biasa untuk kuartal ke-3 ini, naik dari -0,7 persen pada kuartal ke-2, menjadi +3,5 persen. Di Asia, Jepang dan China terus memacu pertumbuhannya untuk kuartal ke-3 ini.

Pemerintah di seluruh dunia menggelontorkan nilai stimulus yang sangat besar untuk mengangkat perekonomian di masing-masing negara akibat keterpurukan ekonomi yang disebabkan oleh masalah di sektor keuangan dan perumahan pada 2008. Hasilnya sudah mulai terlihat menjelang penghujung 2009.

Dalam pertemuan KTT G20 dan APEC yang belum lama berlangsung, para pemimpin negara dunia yang tergabung di dalamnya sepakat untuk tetap menjalankan stimulus ekonomi dan belum akan menghentikannya untuk menjaga kesinambungan pemulihan ekonomi. Para pemimpin dunia rupanya menyadari bahwa, tanpa stimulus ekonomi, pertumbuhan GDP yang dirasakan pada kuartal ke-3 ini tidak akan terjadi. Bila stimulus ini dihentikan saat ini, maka hal itu akan menyebabkan ekonomi kembali tenggelam karena masyarakat belum menjadi penggerak utama perekonomian, melainkan masih perlu sokongan pemerintah.

Sebagai contoh, pada November lalu, Pemerintah AS memperpanjang salah satu program stimulusnya, yaitu pemberian potongan pajak (tax credit) senilai  8.000 dollar AS bagi masyarakat yang membeli rumah pertama kali dan juga menambah stimulusnya dengan memberikan potongan pajak senilai 6.500 dollar AS bagi masyarakat yang membeli rumah untuk kedua kali hingga akhir April 2010. Pemerintah AS juga memperpanjang pemberian tunjangan pengangguran selama 14 minggu.

Bank sentral seluruh dunia pun turut berperan dalam mengangkat perekonomian dari krisis dengan menurunkan suku bunga ke tingkat terendah dan membuat kebijakan non-konvensional dengan program pembelian aset.

Di Inggris, Bank of England pada bulan lalu menambah program pembelian asetnya sebesar 25 miliar poundsterling sehingga total program tersebut menjadi 200 miliar poundsterling. Menurut BoE, program pembelian aset dapat meningkatkan harga aset dan memperbaiki akses ke pasar modal.

Federal Reserve, bank sentral AS, sudah mengindikasikan suku bunga rendah tidak akan berubah hingga ada indikasi pemulihan ekonomi yang stabil. Dollar, yang dulu menguat akibat dana investor dibenamkan ke aset dollar, menjadi lemah karena investor mengalihkan investasinya ke aset yang ber-yield lebih tinggi. Karena suku bunganya yang sangat rendah, dollar dijadikan sumber pembiayaan untuk membeli aset-aset tersebut.

Ada ketakutan di dunia bahwa akan terjadi bubble pada aset-aset ber-yield tinggi, seperti properti, komoditas, dan saham, karena pembelian yang berlebihan dan sangat spekulatif tanpa didasari fundamental ekonomi yang kuat. Hal ini dapat menjadi cikal bakal krisis yang kedua.

Dollar AS terus melemah akibat kebijakan suku bunga rendah. Namun, hal ini tampaknya tidak menjadi masalah bagi AS sebab dollar AS yang melemah dapat membantu kinerja ekspornya. Ekspor yang bagus akan membantu memulihkan industri manufaktur dan jasa di AS yang artinya dapat menyerap banyak tenaga kerja AS dan akhirnya juga meningkatkan daya beli masyarakat.

Pemerintah dunia yang menjadi mitra dagang AS menjadi sangat khawatir dengan pelemahan dollar AS. Pada pertemuan bilateral antara pemerintah Jepang dan AS, pejabat Pemerintah Jepang mengungkapkan kecemasan ini kepada pemerintahan Obama. Obama mengatakan bahwa dollar AS yang kuat penting untuk AS. Akan tetapi, dia mengharapkan perdagangan yang seimbang. Hal ini menyiratkan bahwa Pemerintah AS lebih senang jika dollar melemah.

Melihat realitas yang ada, kita mungkin masih akan melihat pelemahan dollar di penghujung tahun ini. Secara teknis pun terlihat bahwa indeks dollar AS berada dalam tekanan. Indeks dollar AS kemungkinan masih akan berada di level antara 74-76 yang menunjukkan betapa lemahnya dollar AS terhadap mata uang dunia yang diwakili oleh euro, yen, poundsterling, dollar Kanada, krona Swedia, dan Swiss franc.

Dollar juga masih akan dijadikan sarana carry trades dalam investasi di bursa saham dan komoditas. Indeks saham masih akan tertahan di level atas meskipun di level yang sekarang ini amat rentan dengan koreksi tajam, apalagi pasar pada penghujung tahun ini dibayangi oleh suasana liburan akhir tahun yang akan menyebabkan volume transaksi mengecil. Harga komoditas khususnya emas pun masih akan tertopang oleh melemahnya dollar AS. Emas masih akan terus bertahan di atas level 1.100 dollar AS per troy ounce. Happy Trading, Happy Holiday (AT/Senior Research & Analyst Monex)

Sumber :
Monex