Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 23:56 WIB
Dollar Terpuruk, Emas Sentuh Rekor
| Edj | Selasa, 24 November 2009 | 09:15 WIB
|
Share:

NEW YORK, KOMPAS.com — Dollar AS berada dalam tekanan baru pada Senin waktu setempat setelah sebuah komentar memberikan kesan bahwa otoritas AS akan memperpanjang langkah stimulus darurat sehingga mendorong para pedagang untuk pindah ke aset berisiko, termasuk emas. 

Harga emas menyentuh rekor 1.174 dollar AS per ounce di kedua perdagangan  di pasar London sebelum sedikit mundur kembali. "Harga emas mencapai rekor baru seiring terus melemahnya dollar AS," ujar analis ODL Markets.

Tindakan pasar yang rapuh menekan greenback (dollar AS), tetapi mendorong harga emas ke rekor tinggi. Pada 2200 GMT, euro naik menjadi 1,4963 dollar AS dari 1,4860 akhir di New York pada Jumat. Yen, seperti greenback, yang  dipandang sebagai tempat aman ketika pasar bergejolak, juga menurun. Dollar menguat menjadi 88,97 yen dari 88,92 yen pada akhir Jumat.

"Kemerosotan dollar ini didorong oleh komentar pejabat dari Federal Reserve AS bahwa ia akan lebih memilih untuk tetap mempertahankan program pembelian aset oleh bank sentral," kata para analis.
   
Kepala Federal Reserve Bank St Louis James Bullard mengatakan, perpanjangan program, yang secara luas dianggap sebagai faktor negatif bagi mata uang AS, akan memberikan lebih banyak fleksibilitas bagi para pembuat kebijakan AS. Komentar ini menekan imbal hasil obligasi negara AS di tengah harapan bahwa suku bunga ultra-rendah yang mendorong pinjaman dollar besar-besaran untuk suatu hal yang disebut sebagai carry trade akan tetap di tempatnya. "Pembelian banyak aset dan berlanjutnya imbal hasil rendah tidak menghasilkan apa yang dibutuhkan dollar saat ini," kata Sacha Tihanyi dari Scotia Capital.

"Kekhawatiran terjadi pada pendanaan dollar, disebut sebagai carry trade yang terus bertahan, dan dengan alasan yang bagus. Yang menjadi perhatian utama, menggunakan pembiayaan murah mata uang cadangan utama dunia akan meniup gelembung aset ekuitas dan pasar komoditas dan di real estate di beberapa negara."
   
Tihanyi mengatakan, ketika pelemahan dollar terjadi, yang diuntungkan adalah emas dan komoditas lainnya, yang juga diibaratkan sebagai "pagar sempurna terhadap dampak pelemahan dollar."
   
"Namun, melemahnya dollar menciptakan ketegangan perdagangan dan juga meningkatkan biaya impor komoditas bagi mereka yang mata uangnya tidak menguat terhadap dollar," tambahnya.

Sementara itu, Julian Jessop dari Capital Economics menyebutkan bahwa gelombang terbaru terhadap harga emas dapat menjadi jaminan ketika gelembung risiko inflasi berkembang di aset lain, termasuk ketika dollar AS runtuh.

Sumber :
ANT,AFP