
JAKARTA, KOMPAS.com — Kurs rupiah terhadap dollar AS di pasar spot antarbank, Jakarta, Selasa (24/11) pagi, turun 50 poin hingga mendekati angka Rp 9.500 per dollar AS karena pelaku pasar melepas rupiah setelah hari sebelumnya menguat tajam.
Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS turun menjadi Rp 9.495-Rp 9.505 per dollar AS dibandingkan penutupan hari sebelumnya, Rp 9.445-Rp 9.455.
Analis valas PT Bank Himpunan Saudara Tbk, Rully Nova, di Jakarta, Selasa, mengatakan, pelaku pasar melepas rupiah untuk mencari untung setelah hari sebelumnya mata uang lokal itu menguat. "Pelaku pasar mengindahkan adanya faktor positif dari bursa Wall Street di mana saham-sahamnya mengalami kenaikan, yang terpicu oleh data perumahan AS yang membaik selain itu juga didukung oleh dollar AS yang melemah," katanya.
Menurut dia, faktor positif dari Wall Street sebenanya dapat mendorong rupiah menguat didukung pula oleh melemahnya dolar di pasar regional. Namun pelaku pasar lebih cenderung melepas rupiah ketimbang membeli dollar.
Menurut dia, pelaku pasar sebenarnya masih khawatir dengan jawaban Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengenai kepastian hukum kasus Bibit dan Chandra karena Kepala Negara menyerahkan persoalan itu kepada masing-masing institusi. "Kekhawatiran mengakibatkan pelaku lebih cenderung melepas rupiah ketimbang membeli meski sentimen agak positif," katanya.
Ia juga mengatakan, peluang rupiah untuk naik masih ada, apalagi kasus Bibit dan Chandra kemungkinan tidak akan dibawa ke pengadilan setelah Presiden mendapat masukan tim klarifikasi kasus KPK dan Polri.
Namun, ia yakin, meski melemah, posisi mata uang RI ini masih akan berkisar di bawah level Rp 9.500 per dollar AS, bahkan pada siang hari kemungkinan akan kembali menguat karena sentimen positif dari regional makin membaik. "Kami optimistis apabila tidak ada hambatan, pergerakan rupiah akan kembali menguat," ujarnya.