Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 23:57 WIB
Kredit Valas Lesu, Bank Simpan di Luar
| Edj | Selasa, 24 November 2009 | 12:49 WIB
|
Share:

JAKARTA, KOMPAS.com — Permintaan kredit valuta asing yang sangat rendah disebut-sebut sebagai alasan bankir lokal memarkir dana dollar di bank luar negeri. Permintaan kredit yang super-rendah itu bisa dilihat dari catatan Bank Indonesia. Hingga akhir Oktober lalu, nilai kredit valas justru menyusut hingga 27 persen.

Angka dari nilai likuiditas valas yang tersedia memang tidak dipastikan. Namun, jika merujuk ke cadangan devisa, per akhir Oktober lalu Indonesia mencapai rekor tertinggi, yaitu 64,5 miliar dollar AS. Yang perlu diingat, cadangan devisa juga menghitung stok emas yang dimiliki Bank Indonesia (BI).

Namun, bankir meyakini, likuiditas valas di tahun ini memadai. "Nilai valas yang masuk cukup besar. Namun, karena bank di dalam negeri belum siap memutar, mereka menyimpan dana valas di bank luar negeri," kata Kepala Tresuri PT Bank OCBC NISP Tbk Suriyanto Chang, Senin (23/11).

Data Neraca Pembayaran Indonesia yang dirilis BI pekan lalu memperlihatkan, total uang swasta yang tersimpan di luar negeri sebesar 4,73 miliar dollar AS per akhir September 2009.

Parkir sementara

Direktur Keuangan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) Sudaryanto Sudargo membenarkan penjelasan semacam itu. Pebisnis dan bank lokal makin tertarik untuk menyimpan uang di luar negeri karena bunga simpanan valas di luar Indonesia tidak jauh berbeda dengan bunga di dalam. "Dana disimpan sementara sampai nanti permintaan kredit valas pulih," ujar dia.

Sudaryanto mengaku, likuiditas valas BRI kini masih longgar, sebesar 1 miliar dollar AS. BRI banyak menempatkan dana valas di Bank of New York dan di Jepang.

Selain untuk membiakkan uang, BRI juga menempatkan dana valas dalam bentuk deposit real account untuk kebutuhan trade finance di bank koresponden. "Jadi, kami menyimpannya dalam berbagai macam mata uang. Ada yang berupa dollar, euro, dan yen," ungkap Sudaryanto.

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) juga mengungkapkan hal serupa. Per akhir kuartal III 2009, dana valas BCA senilai Rp 28,8 triliun naik 69 persen dari tahun lalu.

Wakil Direktur Utama BCA Jahja Setiaatmadja menuturkan, dana valas BCA yang ditempatkan di bank lain, termasuk di bank luar negeri, mencapai Rp 12,5 triliun, atau naik 173 persen dari periode yang sama tahun lalu. "Kami menyimpannya antara lain di Bank of New York dan JP Morgan," ujar Jahja.

Bankir yakin, jika situasi ekonomi membaik, maka permintaan kredit valas akan tumbuh lagi. Saat hal itu terjadi, bankir akan menarik lagi dana valas yang mereka parkir di bank luar negeri. (Ruisa Khoiriyah, Kun Wahyu Winasis/Kontan)

Sumber :
KONTAN