KOMPAS
Selasa, 9 Februari 2010 Selamat Datang  |     |  
Kinerja PT PLN Dievaluasi
Rabu, 25 November 2009 | 05:33 WIB
 

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Negara BUMN, tengah melakukan evaluasi terkait kinerja PT Perusahaan Listrik Negara dan kondisi kelistrikan sekarang.

Evaluasi dilakukan oleh tim gabungan untuk melihat kondisi kelistrikan sekarang, mulai dari aspek teknis hingga manajemen pengelolaan perusahaan.

Hal itu diungkapkan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Mustafa Abubakar, Senin (23/11) di Jakarta, seusai melantik Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso.

Menurut Mustafa, tim gabungan melakukan evaluasi menyeluruh mulai dari aspek teknis terkait dengan penyediaan jasa kelistrikan, aspek pembiayaan terkait dengan investasi, hingga penetapan tarif dasar listrik, termasuk penilaian dari aspek pengelolaan atau manajemen perusahaan.

”Sesegera mungkin hasilnya. Setelah selesai dengan Bulog, BUMN lain menunggu giliran penggantian direksi. Saat ini belum bisa diumumkan kepada masyarakat,” katanya.

PT PLN menjadi sorotan setelah terjadi pemadaman listrik bergilir sejak akhir September lalu, menyusul terjadi kerusakan trafo pada gardu induk di Cawang dan Kembangan. Namun, sebelumnya pemadaman bergilir sudah terjadi di sejumlah daerah karena defisit listrik akibat kerusakan sejumlah pembangkit. Juga minimnya pasokan gas ke sejumlah pembangkit listrik.

Konsistensi 10.000 MW

Sementara itu, mantan Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla mengingatkan, pembangunan pembangkit tenaga listrik 10.000 MW yang dimulai tahun 2006 hendaknya diteruskan secara serius dan konsisten agar pemadaman yang melanda sejumlah wilayah belakangan ini tidak berlarut-larut. Demi efisiensi, pembangunan pembangkit yang menggunakan batu bara tersebut hendaknya merupakan bagian dari skenario meninggalkan penggunaan diesel untuk listrik.

Berbicara di Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (22/11), Kalla berharap pemerintah meneruskan dan tetap mengawasi kegiatan pengadaan pembangkit listrik agar target 10.000 MW secara nasional bisa tercapai pada tahun 2011.

Ke depan, Jusuf Kalla menekankan pentingnya meninggalkan penggunaan diesel sebagai tumpuan pembangkit tenaga listrik dan kemudian beralih ke energi terbarukan yang bertumpu pada air, geotermal (panas bumi), dan tenaga angin. (IRE/NAR/MAS/EVY)

Editor: jimbon   |   Sumber : Kompas Cetak Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.