KOMPAS
Minggu, 21 Maret 2010 Selamat Datang  |     |  
Turun, Minyak Dunia Masih Kisaran 76 Dollar
Rabu, 25 November 2009 | 08:14 WIB

NEW YOKR, KOMPAS.com - Harga minyak turun pada Selasa (24/11) waktu setempat, setelah Amerika Serikat mengatakan ekonomi terbesar dunia itu tumbuh lebih lambat dari perkiraan dalam kuartal ketiga, mendorong kekhawatiran tentang permintaan energi.

Kontrak berjangka utama New York, minyak mentah light sweet pengiriman Januari, jatuh 1,54 dollar AS ditutup pada 76,02 dollar AS per barrel. Di London, minyak mentah Brent untuk pengiriman Januari merosot 1,00 dollar AS pad 76,46 dollar per barrel.
   
Analis mengatakan pasar minyak tersandung setelah pemerintah AS merevisi turun perkiraan produk domestik bruto untuk kuartal ketiga.
   
Departemen perdagangan mengatakan bahwa PDB tumbuh pada tingkat tahunan 2,8 persen dalam periode Juli-September, turun dari perkiraan pertumbuhan bulan lalu 3,5 persen.

Ekspansi yang lebih lambat, sejalan dengan prakiraan sebagian besar analis, meskipun demikian sebuah "rebound" (berbalik naik), menandai pertumbuhan pertama dalam perekonomian setelah empat kuartal berturut-turut kontraksi.

"Sementara laporan PDB hari ini sesuai dengan harapan, PDB masih dikupas 0,7 persen dari kinerja kuartal sebelumnya  yang ditingkatkan oleh program ’cash for clunkers’," kata Mike Fitzpatrick, analis di MF Global.

Sebagian besar ekonom mengatakan pemulihan AS dari resesi terburuk dalam beberapa dasawarsa tampaknya berada di jalurnya, tapi dapat terpeleset oleh meningkatnya pengangguran. Angka pengangguran mencapai tertinggi dalam 26 tahun  terakhir, yakni 10,2 persen pada Oktober.
   
Survei terpisah Selasa menunjukkan kepercayaan konsumen AS naik sedikit pada November setelah dua bulan menurun.

Fitzpatrick mengatakan pasar menunggu laporan persediaan dari Departemen Energi Amerika Serikat pada Rabu, yang diperkirakan  menunjukkan permintaan yang lemah. "Minggu ini laporan persediaan akan menunjukkan peningkatan total minyak mentah dan pemanfaatan utilitas masih terendah dalam sejarah sebagai konsekuensi dari tekanan margin," katanya.

Editor: Edj   |   Sumber : ANT,AFP Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.