KOMPAS
Selasa, 9 Februari 2010 Selamat Datang  |     |  
Industri Reksadana Indonesia Tertinggal
Rabu, 25 November 2009 | 16:31 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Industri reksadana nasional masih jauh tertinggal jika dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Ketertinggalan itu tecermin dari rasio dana kelolaan reksadana terhadap produk domestik bruto (PDB), kata Ketua Umum Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) Abiprayadi Riyanto di Jakarta, Rabu (25/11).

"Dana kelolaan reksadana nasional terhadap PDB hanya 1,21 persen, jauh tertinggal jika dibandingkan dengan Malaysia yang 16 persen dan Thailand 12,2 persen," katanya.

Abi mengatakan, jika ingin mengejar ketertinggalan, pertumbuhan industri reksadana nasional harus mencapai 29 persen per tahun dengan asumsi pertumbuhan PDB sekitar 6 persen. Saat ini pertumbuhan industri reksadana hanya sekitar 10 sampai 20 persen per tahun.

Menurutnya, pertumbuhan industri reksadana juga terkait dengan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) di perbankan. Sebab, jika asumsi pertumbuhan DPK perbankan sebesar 10 persen per tahun maka industri reksadana bisa tumbuh 29 persen per tahun.

Dia menambahkan, industri reksadana juga tergantung dari perkembangan suku bunga perbankan, jka suku bunga tidak terlalu tinggi maka industri reksadana akan lebih cepat tumbuhnya. "Orang akan lebih suka investasi di reksadana ketimbang deposito di bank," ujarnya.

Selain itu, katanya, ketertinggalan industri reksadana karena kurangnya sosialisasi kepada investor, banyak investor yang hanya tahu menanam investasinya di bank.

Editor: Edj Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.