SINGAPURA, KOMPAS.com — Harga minyak mentah lebih rendah di perdagangan Asia pada Kamis (26/11) setelah rally semalam menguat karena didukung data Amerika Serikat yang positif dan melemahnya dollar AS.
Kontrak utama New York, minyak mentah jenis light sweet untuk pengiriman Januari, turun 50 sen ke posisi 77,76 dollar AS per barrel.
Minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Januari juga turun 47 persen menjadi 77,97 dollar AS per barrel.
Harga menguat semalam karena data baru AS menunjukkan angka pengangguran diklaim turun pada pekan yang berakhir 21 November menjadi hanya 466.000, tingkat terendah sejak September 2008.
Laporan serupa menunjukkan bahwa belanja konsumen naik lebih dari yang diperkirakan pada Oktober dan penjualan rumah baru naik pada tingkat terkuat sejak September 2008. "Sentimen (pasar) yang berlebihan didasarkan pada pemberitaan ekonomi," kata Andy Lipow, analis pada Lipov Oil Associates.
Menurut analis, harga minyak mentah kemungkinan melemah pada perdagangan Asia pagi karena para investor berubah fokus dengan mencerna data minyak mingguan dari Departemen Energi AS (DOE). "Jumlah inventaris di mana tidak menjadi inspirasi untuk mendorong pasar lebih tinggi," kata Jason Feer, wakil pimpinan regional untuk para analis energi yang berbasis di Singapura, Argus Media.
"Fundamental permintaan masih lemah," katanya.
Menurut DOE pada Rabu dalam laporan mingguannya, cadangan minyak naik satu juta barrel pada pekan yang berakhir 20 November. Cadangan bensin pun naik dengan jumlah yang sama.
Laporan mingguan DOE mendekati pengamatan pasar karena Amerika Serikat merupakan konsumen energi terbesar dunia.
Sementara itu, Aljazair, negara anggota OPEC, mengatakan bahwa kartel minyak itu kemungkinan tetap mempertahankan tingkat produksinya pada saat organisasi minyak dunia itu bertemu bulan depan di Angola.
