Minggu, 27 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 27 Mei 2012 | 00:23 WIB
Krisis Dubai, Pasar Obligasi Indonesia Tetap Aman
Wahyu Satriani Ari Wulan | wah | Senin, 30 November 2009 | 11:30 WIB
|
Share:

AFP/KARIM SAHIB
Seorang lelaki berjalan di depan kawasan bisnis Dubai di Teluk, Minggu (29/11). Krisis Dubai, yang dipicu penundaan pembayaran utang Pemerintah Dubai, diperkirakan akan berpengaruh pada pembukaan hari setelah libur panjang Lebaran Haji kali ini.

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com — Krisis Dubai World tidak akan berpengaruh signifikan terhadap pasar obligasi Indonesia karena peredaran obligasi syariah dunia di Indonesia masih terbilang kecil. Demikian disampaikan Direktur Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan BI Halim Alamsyah, saat "Seminar Prospek Industri Keuangan dan Perbankan Tahun 2010" di Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Jakarta, Senin (30/11).

"Mudah-mudahan saya kira dampaknya kecil ke Indonesia," ujar Halim. Menurut Halim, krisis Dubai World ini akan berdampak ke Malaysia. Pasalnya, Negeri Jiran itu menguasai sekitar dua pertiga peredaran obligasi syariah dunia.

Adapun untuk Indonesia sendiri, kata Halim, BI optimistis krisis Dubai tidak akan membawa dampak yang signifikan bagi industri perbankan. "Kita yakin ekonomi dan industri perbankan kita cukup baik. Ini mungkin ke arah pasar modal barangkali, tapi kita optimis ini akan bisa kita lewati," tuturnya.

Kendati demikian, dia mengaku, saat ini pihaknya masih terus mengumpulkan informasi terkait krisis Dubai dan pengaruhnya terhadap industri perbankan Indonesia. Dubai World mengumumkan menunda pembayaran obligasi sekitar 60 miliar dollar AS hingga Mei 2010.

"Kita hanya mendengar mereka memiliki utang yang cukup besar dan yang gagal bayar kan obligasi sukuk. Kita masih melihat apakah ada yang dipegang oleh industri perbankan Indonesia dan berapa besar," tandasnya.