
YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Produk kerajinan yang menggunakan merek lokal sulit dipasarkan ke pasar internasional. Oleh karena itu, perajin lebih memilih menjual produknya tanpa mencantumkan merek apapun seperti yang diinginkan para pembeli dari luar negeri.
Ketua Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) DIY Yuli Sugianto mengatakan, minat pasar internasional terhadap produk buatan Yogyakarta tinggi. Namun perusahaan dagang asing biasanya keberatan membeli produk yang sudah diberi merek oleh perajin. Apalagi kalau perusahaan tersebut sudah punya merek yang terkenal, tentu mereka akan mencantumkan mereknya sendiri, katanya, Senin (30/11).
Seorang produsen, lanjut dia, memang perlu membangun citra dengan cara mencantumkan merek tertentu pada produknya. Namun untuk pasar ekspor, upaya membangun citra semacam itu sulit dilakukan karena melihat situasi pasar. "Produk saya pun langsung ditempeli merek dan barcode milik mereka (perusahaan dagang asing). Namun dalam dokumen eskpor tetap ada pencantuman Made in Indonesia," ujarnya.
Menurut dia, perajin maupun perusahaan eksportir Indonesia umumnya belum memiliki jaringan pemasaran sendiri di pasar internasional. Kondisi semacam itu membuat perajin sangat tergantung kepada perusahaan asing yang sudah punya jaringan distribusi internasional.
Secara terpisah, Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi DIY Riyadi Ida Bagus mengakui bahwa merek lokal sulit menembus ekspor. "Pembeli punya kuasa memilih. Kalau perajin atau produsen di sini tidak mau menjual produknya tanpa merek, mereka bisa saja mencari perajin di negara lain atau bahkan wilayah lain di Indonesia," jelasnya.
Selain tergantung pada pembeli, produsen yang tidak bisa mencantumkan merek sendiri juga tidak bisa mengembangkan pasar. "Meski begitu, ekspor produk tanpa merek itu tetap bisa menguntungkan produsen serta menyerap tenaga kerja. Jadi tidak ada yang salah dengan fenomena ini. Namun upaya membangun merek lokal tetap harus dimulai. Produk herbal dan batik sangat potensial," ujar Riyadi.