GENEVA, KOMPAS.com — Negara-negara pengekspor yang tergabung dalam Cairns merasa perundingan Putaran Doha di Qatar tidak terlalu banyak kemajuan.
"Kami kecewa dengan kemajuan yang sangat terbatas dalam menjembatani perbedaan pandangan mengenai modalitas produk pertanian," ujar Menteri Perdagangan Australia Simon Crean di Geneva, Senin (30/11). Modalitas yang dimaksud adalah formula yang sangat luas mengenai pemotongan tarif.
Namun, menurut Menteri Perdagangan Mari Pangestu, sebenarnya sudah ada perkembangan di antara anggota Cairns, misalnya masalah perlindungan terhadap produk pertanian (special safeguard mechanism/SSM).
"Tahun lalu ada negara yang agak sulit menerima, seperti Thailand dan Kosta Rika. Namun, sekarang mereka telah dapat mengerti. Dengan adanya SSM, mereka takut pasar mereka terganggu. Padahal, kalau ada volume panen yang besar dan harga turun, dengan SSM kita punya mekanisme untuk membantu petani," ujar Mari.
Cairns merupakan organisasi negara pengekspor yang terdiri atas 19 negara. Negara anggota Cairns antara lain adalah Argentina, Australia, Bolivia, Brasil, Kanada, Cile, Kolombia, Kosta Rika, Guatemala, Indonesia, Malaysia, Selandia Baru, Pakistan, Paraguay, Peru, Filipina, Afrika Selatan, Thailand, dan Uruguay. Nilai ekspor pertanian dari ke-19 negara tersebut setara dengan 25 persen nilai ekspor pertanian di dunia.


